Fajar Sendu Situ Cileunca

02 September 2018.

Tengah malam tepat, kereta Pasundan tiba di Stasiun Kiaracondong—Bandung, setelah menempuh perjalanan panjang, kurang lebih sembilan jam dari Lempuyangan—Yogyakarta. Aku melangkah menuju musala untuk menunaikan salat. Secara naluri, aku mengeluarkan ponsel, bermaksud menghubungi seseorang. Namun urung. Aku hanya tersenyum simpul dan memasukkan kembali ponsel ke dalam saku. Karena kini aku tak mungkin dan tak ada guna lagi menghubunginya. Kami telah usai.

******

BACA AJA LANJUTANNYA KAKAK

Menjemput Fajar Punthuk Setumbu

Mungkin sebaiknya kita memiliki setidaknya satu orang teman yang seperti Mas Adit. Tidak terlalu ribet kalau urusan jalan-jalan. Selama tidak bentrok dengan jadwal, mau ke mana saja dia siap. Tipikal orang yang sudah menyiapkan satu tas berisi pakaian untuk berjaga-jaga. Soal tempat juga tidak terlalu banyak memilih. Meski memiliki target-target kecil seperti ke tempat A, B, C, tapi tidak kemudian memaksakan kehendak. Dan seperti kebanyakan karyawan pada umumnya, dia bertubuh tambun.

******

BACA AJA LANJUTANNYA KAKAK

Bersepeda Keliling Taman Purbakala Prambanan

Tak seperti hari libur yang lain, kali ini aku tidak lagi menarik selimut selepas salat Subuh. Tanggal merah, matahari bersinar hangat, langit biru, hari yang cerah. Kombinasi-kombinasi yang menyenangkan untuk memulai hari. Waktu masih menunjukkan pukul tujuh pagi, saatnya mencari sarapan nasi kuning dulu, baru kemudian mandi. Mengenakan kaus yang pantas dan celana, kemudian menyalakan dan memanaskan mesin motor. Sementara anak kos lain masih berkutat dengan mimpinya. Bermimpilah yang dalam, teman, karena semua berawal dari mimpi.

******

BACA AJA LANJUTANNYA KAKAK