Bakso Aneka Rasa Tuban

“Mau diantar sampai mana, Mbak Lies?”

“Bakso Aneka Rasa saja.”

Itu adalah dua buah percakapan yang masih aku ingat hingga sekarang. Percakapan itu terjadi lampau. Ketika Lies sekeluarga bertandang ke rumah kakaknya di Tuban. Lalu adegan berikutnya adalah, mereka – Lies Sekeluarga, diantar oleh keponakannya ke Bakso Aneka Rasa. Siapa mereka?

Belum Tutup
Menu dan Foto Pemilik

Lies adalah nama mamaku. Aku harus mengingat-ingat kapan kejadian itu terjadi. Aku masih kecil. Tapi kejadian itu masih cukup kuat adanya dalam ingatan. Kami cukup sering bermain ke Tuban, terutama saat aku masih kecil. Terutama saat masih belum memasuki bangku sekolah. Sekadar untuk berkunjung ke rumah kakak dari mama atau dalam Bahasa Jawa dikenal sebagai Bude.

Biasanya, kami berkunjung pada hari Sabtu, lalu pulang pada Minggu keesokan harinya. Aku yang masih kecil kegiatannya hanya bermain-main saja di rumah bude. Berlarian, bermain kelereng, dan lainnya. Aku tak mengerti apa yang orang-orang tua bicarakan.

Bude memiliki tiga orang anak. Anak kedua dan ketiga tak terpaut cukup jauh dari umur kakak perempuanku, sehingga mereka lebih sering bermain bersama. Entah pada kunjungan yang kapan, aku ingat mereka bertiga sedang bermain gitar menyanyikan lagu Ceria dari J-Rocks.

Bakso Komplit

Di malam harinya, kadang aku diajak oleh mas sepupuku berkeliling Tuban dengan sepeda motor. Meski tahun itu, aku merasa Tuban sudah ramai, terutama di malam minggu. Yang paling aku ingat, aku sempat diantar menuju bekas Stasiun Kereta Api Tuban. Sayangnya aku belum sempat menengok lagi kondisinya sekarang.

Baca juga: Menjajal Mewahnya Jayakarta Premium

Di pagi hari Minggu, masih sama. Aku masih tetap bermain di halaman sekitar, orang-orang tua sedang ngobrol. Saat waktu sudah beranjak siang, kadang aku tiduran sambil mendengarkan tape yang memutar kaset berisi lagu bujangan atau mendengar lawak Kirun CS. Oh iya sesekali di pagi hari kami bermain ke pantai di dekat rumah.

“Mau diantar ke mana, Mbak Lies?” Adalah kalimat yang dilontarkan salah seorang sepupuku sebelum kami sekeluarga pulang. Kadang kami diantar sampai depan gang saja kemudian naik angkot menuju terminal (yang sekarang menjadi tempat pujasera dan pusat oleh-oleh Tuban). Tapi lebih dari sekali pula, kami diantarkan dengan naik motor, menuju tempat makan bakso bernama Aneka Rasa.

Begitulah Bakso Aneka Rasa hampir selalu menjadi tempat makan kami sekeluarga.

Es Teler

*****

Setelah sekian tahun berlalu, aku semakin jarang bahkan dalam setahun belum tentu pergi ke Tuban. Sekian tahun berlalu pula Tuban semakin berubah, beberapa ruas jalan menjadi satu arah, gerai-gerai Indomaret dan Alfamart menjamur, bahkan sekarang sudah ada supermarket dan KFC. Tak melulu soal pembangunan, muncul taman kota di dekat Jalan Manunggal, terminal lama berubah menjadi tempat pusat jajanan selera rakyat—pujasera, Hotel Mustika bertambah megah, dan terminal bis pun berpindah beberapa meter ke arah marat dengan kapasitas yang lebih besar dan luas.

Tempat wisata (terutama pantai) pun banyak: Pantai Boom seberang alun-alun, Pantai Remen, hingga Pantai Sowan di ujung barat dekat perbatasan dengan Lasem, Jawa Tengah.

Pun dengan Bakso Aneka Rasa.

Laper 🙁

Baca juga: Mengenang Siola Surabaya

Bakso Aneka Rasa Tuban yang dulu berlokasi di seberang gereja, di Jalan PB Sudirman sekarang pindah beberapa meter ke arah timur dari lokasi semula. Aku sempat bertemu dengan Bapak Khoirul, sang pemilik.

“Kalau dulu di sana—seberang gereja, itu masih ngontrak. Pas kontraknya habis, Mau diperpanjang ternyata nggak boleh sama yang punya,” tutur beliau, “Sejak 2012 pindah ke sini. Kalau yang sekarang di sini sudah rumah sendiri.”

Bapak Khoirul merupakan penerus dari pemilik sebelumnya. Pemilik sebelumnya—ayah beliau, sudah meninggal pada tahun 2007.

Aku memesan satu mangkuk bakso tanpa kikil dan es campur. Bakso hangat saat hujan baru saja reda memang tak pernah menjadi sebuah kesalahan. Ditambah lagi, aku baru saja kehujanan di Kelenteng Kwan Sing Bio.

Jangan Godain Aku dong 🙁

Ada yang berbeda rupanya. Kalau dulu, ada satu pentol yang berukuran besar, tapi sekarang sudah dihilangkan. Aku tak tahu apakah harus memesan menu bakso istimewa agar pentol besar tersebut muncul atau memang sudah habis. Tempat ini sekarang juga lebih sepi dibanding dulu. Mungkin orang-orang mengira Bakso Aneka Rasa sudah tamat. Tapi tidak, mereka hanya berpindah tempat.

Di Jawa Timur, yang dimaksud bakso adalah satu mangkuk utuh dan lengkap mulai dari pentol, tahu, bihun, kubis, hingga kuah. Sedangkan bakso yang umumnya disebut di daerah lain, di Jawa Timur bernama pentol. Ah, mari lupakan saja perihal nama yang remeh temeh itu. Nikmati saja semangkuk bakso panas yang telah terhidang di atas meja itu.

Di Aneka Rasa, akan sahih jika kau menyandingkan semangkuk bakso dengan semangkuk es teler yang dingin. Cincau, dawet, roti, irisan alpukat, dan beberapa suwir degan tampak sangat menggoda dengan kuahnya yang berbalut sirup berwarna merah hati. Tentu lengkap dengan es batu yang membuat sisi luar mangkuk berkeringat karena perbedaan suhu.

Sahih!
Bapak Khoirul (tengah) bersama Keluarga

Hujan tak lagi mengguyur kota Tuban. Tepat saat aku menuntaskan dendamku pada semangkuk bakso dan es teler ini. Saatnya membayar. Total dua mangkuk yang mengenyangkan itu harus kutebus dengan uang sebesar lima belas ribu rupiah.


48 thoughts on “Bakso Aneka Rasa Tuban

  1. Pertama-tama, selamat dulu ah 🙂
    Selamat buat galautraveler.com semoga langgeng dan semakin rajin posting :p

    Nah, tempat makan yang punya “kenangan” begini memiliki citarasa yang berlipat nikmatnya. Entah ya :))
    Kalau bakso di Tuban apakah punya ciri khasnya mas? Kok di situ ditulis kalau bakso jawa timur ada kubisnya ya? lagi denger ini. Penasaran.
    Terus Es nya ituu lebih lengkap kalau pakai es serut/gosrok wkwk *TimEsGosrok

  2. Duuuuh, salah baca postingan nih.. Malam2 lg laper liat foto2 bakso, duh mbak lies.. Aku mau juga dong diajak ke bakso aneka rasa ini… Hhh
    Salam buat ibumu yaa

  3. Semangkuk bakso dan kenangan lama yang manis. Dan kenangan itu bisa kembali diulang dengan semangkuk bakso yang sama. Cantik Mas jalan ceritanya 🙂

  4. Mantap kali itu bakso aneka rasa Tuban mas.
    Apa lagi dibalut cerita tentang keluarga, jadi lebih pas. Mantap.

    Kapan-kapan kalau ke sana, harus banget coba bakso ini 😀
    Makasih sharingnya Mas.

  5. Aduhhhh..kok jadi laper ya…walaupun ga ngerasain tapi sdh terbayang2 itu bakso sama es telernya enak banget..#cumabisamenghayal ahahaha..

  6. Tempat makan yang mempunyai kenangan. hehehe..
    Enak bngat ya baksonya,,
    Btw ada bakso rasa yang pernah ada gak kak? Mau ngasih satu buat mantan, hahaha

  7. Kelemahanku salah satunya adalah bakso, pokoknya kalau ditawari makan bakso takkan bisa nolak, hahaha! Dan kebetulan banget tempo hari ada teman yg ngajak traveling ke Tuban, sepertinya Baksoi Aneka Rasa ini bakal dimasukin agenda utama 🙂

  8. Bakso dan memori. Ada tuga bakso langganan dari kecil. Dari gerobakan sampai yang rumahan, dari dulu harga 200 perak per pentol sekarang jadi dua ribu 🙁

    Wah kayanya bakso pak Khoirul sehati dengan salah satu langganan bakso di tempat saya. Pasangan semangkok bakso adalah es teler. Bye dulu untuk, apapun makanannya minumnya teh itu wkwkw.

Komen aja dulu, nanti dikomen balik