Belajar Bersama Dinas Koperasi dan UKM Jawa Tengah

Pertengahan bulan November 2017 aku diberikan kesempatan unik: mengunjungi beberapa sentra unit mikro, kecil dan menengah yang ada di Temanggung, Wonosobo, dan Dieng. Kegiatan ini terlaksana atas undangan dari Dinas Koperasi dan UMKM Provinsi Jawa Tengah. Dan seperti setiap perjalanan pada umumnya, perjalanan kali ini pun memiliki cerita dan kesannya tersendiri.

Aku yang meminjam kamera milik Mbak Aqied, harus berangkat dari rumah di Babat menuju Yogyakarta. Perjalanan memakan waktu sekitar enam jam. Di Yogyakarta, aku disambut oleh wajahnya yang telah berubah drastis. Macet di mana-mana: Jalan Kaliurang, Terban, Jalan Monjali, Perempatan Gramedia Sudirman, Perempatan Mirota Kampus, bahkan hingga di area Sekolah Vokasi UGM.

Menurut jadwal, acara akan dimulai pukul 08.00 di Semarang. Mulanya aku berencana untuk memesan shuttle bus Sumber Alam yang berangkat pukul 04.00 dari Yogyakarta. Sehingga aku bisa tiba di kantor Dinas Koperasi dan UMKM Jawa Tengah pada pukul 07.00 (perjalanan Yogyakarta – Semarang secara normal ditempuh +/- tiga jam). Tapi Sumber Alam rupaya sudah menutup fasilitas shuttle Yogyakarta – Semarang sejak dua bulan lalu. Aku beralih ke alternatif lain, Joglosemar. Bersama Mbak Nana, aku memesan dua kursi di Joglosemar untuk keberangkatan paling pagi, pukul 05.00. Semoga tidak macet besoknya.

Baca juga: Menjajal Mewahnya Jayakarta Premium

Proses pembuatan pisang aroma di Kandangan, Temanggung

Keesokan harinya

Drama dimulai. Mbak Nana bangun kesiangan. Semalam sebelumnya, kami sudah diingatkan untuk hadir di titik pemberangkatan 15 menit sebelum jadwal. Aku yang sudah menunggu Mbak Nana di depan kosnya sejak pukul 04.30 hanya bisa deg-degan. Salahku juga yang tidak memindahkan kontak Mbak Nana dari whatsapp ke ponselku. Mbak Nana akhirnya muncul pukul 04.50. Aku langsung saja ngebut (Jangan ditiru ya!) agar tidak tertinggal. Untungnya, meski kami tiba pukul 05.05, tidak ditinggal oleh Joglosemar. Semua penumpang Joglosemar adalah perempuan, hanya aku dan bapak sopir yang laki-laki.

Jadwal Joglosemar yang semula pukul 05.00 pun molor 15 menit. Mas Fauzan selaku penyelenggara sudah mengingatkan agar kami sampai sebelum pukul 08.00. Tapi karena kami baru berangkat jam 05.15, secara normal harusnya kami tiba pukul 08.15. Aku sudah pasrah jika nanti dimarahi Mas Fauzan dan memilih untuk tidur sejak Magelang sembari berharap keajaiban.

Aku terbangun, melihat ke luar mobil, sudah sampai di Ambarawa rupanya, aku melihat jam. Waktu belum menunjukkan pukul 07.00. Keajaiban benar terjadi. Jalanan yang sepi memang mendukung bapak sopir untuk ngebut. Meski sedikit tersendat di Ungaran karena sudah masuk jam kerja karyawan pabrik, kami tetap sampai di Dinas Koperasi dan UMKM Jawa Tengah, pada pukul 07.50. Drama berakhir happy ending.

Kopi Posong Temanggung

Setelah pengarahan diberikan, kami meninggalkan Semarang dan menuju ke destinasi sesuai jadwal. Semua yang dikunjungi akan dibuatkan satu postingan tersendiri. Sentra produksi UMKM yang kami kunjungi antara lain:

Temanggung dan Wonosobo adalah dua kabupaten berdampingan. Keduanya juga diapit oleh beberapa gunung, sehingga letak geografis keduanya cukup tinggi. Temanggung dikenal dengan produksi tembakau dan kopinya yang sudah sampai ke luar negeri. Wonosobo memiliki kota yang cukup tenang dan damai. Tampaknya enak kalau suatu saat nanti tinggal di sini. Kuliner khas Wonosobo yang terkenal: Mie Ongklok, cobalah.

Produk Carica

Di malam minggu, aku bersama beberapa teman ke luar homestay untuk mencari Mie Ongklok. Sayang sate sapi sebagai pelengkap mie ongklok sudah habis. Mungkin ini tanda aku harus ke Wonosobo kali lain dan mencoba Mie Ongklok versi lengkap.

Jangan teledor dan sombong. Itu yang aku dapatkan saat kami semua menginap di salah satu homestay di Dieng. Aku yang sudah menyiapkan celana panjang, sarung, dan jaket, memilih tidur hanya mengenakan kaos dan celana pendek. Jaket yang kupakai di tengah malam tak mengurangi dinginnya Dieng yang lebih dingin dari sikap kamu di pagi hari yang mencapai suhu 14Ā°C.

Keripik Kentang Albaeta

Di tengah perjalanan dari Dieng ke Pasar Papringan, Temanggung. Kami semua disuguhkan oleh pemandangan super cantik yang menampakkan Gunung Prau yang sedang cerah.

Peserta acara ini tak hanya berasal dari dalam negeri, tapi juga ada warga negara lain: Jepang, Italia, Jerman, dan Malaysia. Saat di Papringan, mereka seringkali diajak berfoto, tak hanya di sana tapi hampir di setiap tempat yang kami kunjungi. Teman kami dari Italia, Serena, bercerita saat dia bertandang ke Borobudur, dia mengalami kejadian yang sama (diajak foto). Padahal dia merasa bahwa dia bukan apa-apa. Bahkan saat di Papringan, teman kami yang lain, Freya dari Jerman, sampai ditarik-tarik. Mereka merasa tidak nyaman sebenarnya. Aku sendiri tidak mengerti, mengapa banyak yang meminta foto dengan orang bule yang sebenarnya mereka bukan artis. Hal seperti ini banyak kujumpai saat mengunjungi tempat wisata.

Pasar Bambu Papringan

Di perjalanan dari Wonosobo menuju Dieng, kru bus yang kami tumpangi memutar lagu yang hits berjudul Despacito. Kami meminta Serena untuk menyanyikan lagu yang berasal dan menggunakan bahasa Spanyol. Dia sukses menyanyi dari awal hingga akhir.Ā  Sementara kami, menyanyi hanya saat lirik “Despacito” saja. Kemudian kami meminta kru mengganti lagu menjadi lagu-lagu dangdut pantura, dengan Via Vallen dan Nella Kharisma. Tim bangku belakang dengan bahagia bernyanyi bersama. Seru dan ramai. Aku yakin teman kami yang bule tidak memahami, yang penting “racun” lagu dangdut bisa masuk ke dalam jiwa mereka.

Terima kasih sebesar-besarnya aku sampaikan khususnya kepada Dinas Koperasi dan UMKM Provinsi Jawa Tengah atas kesempatan dan kepercayaannya, Mbak Aqied yang bersedia meminjamkan kamera, dan Vanisa yang mau meminjamkan salah satu telepon pintarnya.

Bertandang Ke Candi Arjuna. Foto oleh Dinas Koperasi dan UKM Jateng

*****

P.S. Buat mbak-mbak cantik berbaju merah, yang duduk di kursi depanku saat naik Joglosemar turun dan dijemput pacarnya di depan Hotel Plasa, kalau baca tulisan ini dan pengen ditikung, bilang saja ya mbak. Dan buat adik Diajeng Kulon Progo, yang sedang pendampingan di Posong, semangat ya. Dan teruntuk kamu yang sikapnya berbeda antara saat chatting dengan di dunia nyata, ternyata kamu menyeramkan ya.

*****

Cerita lainnya dapat dibaca di:

Aji Sukma — lagilibur.com

Albert Ghana — albertna.com

Ardian Kusuma — ardiankusuma.com

Charis Fuadi — sipenyugunung.net

Dimas Suyatno — dimassuyatno.com

Gus Wahid — guswahidunited.blogspot.co.id

Nana Dahlia — pinktraveler.com

Nuzhatul Ussak — dhe-ujha.com

Parahita Satiti — parah1ta.com

Pungky Prayitno — pungkyprayitno.com

Rezi Z — ejiebelula.wordpress.com

Vanisa Desfriani — vanisadesfriani.com

Wira Nurmansyah — wiranurmansyah.com

Ralat: Lagu Despacito menggunakan bahasa Puerto Rico (lebih dekat ke Spanyol daripada Italia). Terima kasih, mas Nugi.
*Update: Penambahan link pada Sentra Produksi Keripik Kentang Dieng, Banjarnegara


34 thoughts on “Belajar Bersama Dinas Koperasi dan UKM Jawa Tengah

  1. Di awal-awal ada drama yang cukup mendebarkan yaa :p tapi wajib bersyukur, karena berakhir dengan happy ending.
    Aku menikmati ceritanya, dan tentu menunggu ulasan cerita setiap sentra produksi UMKM yang sudah dikunjungi. Di akhir komentar, teruntuk mas-mas yang kalau mau nge-chat: ngetik, dihapus lagi, sudah ngetik ga jadi-jadi dikirim, begitu aja terus sampai dia bersanding dengan yang lain šŸ˜€

  2. Aku komenin bagian akhirnya dulu yaaa ,,, itu curhatan kirim pesan kaya di radio aja šŸ˜€
    Btw, ini bagian pembuka tulisanmu udah bikin deg-degan aja. Gak tau kenapa, kalau baca tulisan yang ceritanya lagi dikejar-kejar waktu gitu, aku suka ikutan tegang.
    A pa kah, mereka akan tiba tepat waktuuuuu? *dibaca dengan intonasi a la Fenny Rose* šŸ˜€
    Btw, kalau soal dimintain foto sama orang lokal, seumur-umur aku baru ngerasain pas solo traveling ke India. Selama 17 hari di sana, aku sering banget dimintain foto bareng. Bisa lagi jalan di pasar, kadang lagi duduk-duduk di taman, lagi lihat-lihat bangunan, di dalam kereta. Di sanalah aku merasa jadi turis yang sebenarnya. Mendadak dimintain foto dimana-mana. Dan seringnya dikira dari Korea lah, dari Jepang lah, dari Cina lah, gak ada yang nebak aku dari Indonesia. Paling mepet ya dari Malaysia atau Singapura šŸ˜€
    It was fun, walaupun iya sih, kadang-kadang merasa terganggu juga šŸ˜€

    1. Ahaha. Ampun kak :3
      Yang baca ikutan tegang, yang ngalamin sendiri cuma bisa pasrah wkwkwk. Untungnya berakhir bahagia.
      Wih, seru ya. Tapi kalau di India, apa nggak termasuk scam? Kalo yg kemaren ini aku bilang ke mereka, “kalo kalian pengen jadi artis mendadak, punya banyak fans, dateng aja ke Indonsia” dan mereka ketawa. wkwk

      1. Alhamdulillah, happy ending ya Gallant.
        Nggak sih, selama ini yang minta foto bareng sama aku di India bukan scam. Alhamdulillah. Cuma lucunya, kadang yang minta foto awalnya cuma satu atau dua orang. Setelah mereka foto bareng sama aku, eh datang lagi teman-temannya yang lain minta foto bareng juga šŸ˜€

  3. Kalau aku nggak kelamaan konfirmasi, mungkin kita bisa ketemu di event ini bro šŸ™‚
    Iya, aku sedih sama Jogja sekarang. Macet dan kotor, nggak kayak dulu. Well, aku nggak masalah sama pembangunan hotel, mal, dan gedung-gedung lainnya.
    Acaranya seru ya ada peserta luar negeri! Btw, nganu, Despacito itu bahasa Spanyol šŸ˜€
    karena orang-orang endonesa itu GUMUNAN! makanya liat bule dikit (bule Asia Timur sekalipun) diajak foto dengan heboh.

  4. Komentar ulang *semoga gak kehapus lagi, hahaha*
    Aku mengendus kode-kode bertebaran di postingan ini, semoga ada yang terwujud ya, hahaha! Memang perjalanan mengejar waktu itu bisa bikin mules dan keringat dingin, tapi kalau bisa sampai tepat waktu rasanya pengen sujud syukur sambil potong tumpeng šŸ˜‰

  5. Deskripsi dinginnya Dieng malah bikin kangen buat ke sana lagi hehehe. Rindu suasana jalanan Temanggung-Wonosobo-Dieng huhu. Seru pengalamannya, baik pra hingga pasca acara, hahaha. Semoga bermanfaat.
    Mengomentari soal *P.S.*, hobi amat nikung, Lan? Hahaha

Komen aja dulu, nanti dikomen balik