Belajar Integritas di Kambing Bakar Mas Tedjo

Dengan lokasi yang sangat strategis, di tepi jalan Wonosari-Yogyakarta, Kopi Gading amat sangat mudah ditemukan. Paling menggiurkan adalah menu andalan mereka: Kambing bakar Rica. Menggunakan kambing jawa, dagingnya minim gajih. Tidak alot. Bumbunya meresap. Saya mencoba makanan lain: Nasi Goreng Seafood pedas. Dari estetika #halah sih lucu, bentuknya seperti ada kaki kepiting begitu. Rasanya juga enak. Tapi kurangnya 1: tidak pedas. Bahkan kambing bakar rica juga begitu. Untuk nasi goreng sendiri mungkin harus pesan dengan embel-embel super pedas. Kopi Gading sendiri sedang merintis diri mereka sebagai tempat “ngopi”, semoga proses belajarnya lancar.!!!

Tak berlebihan. Memang begitulah adanya, apa yang aku rasakan setelah memenuhi undangan dari pemilik Kambing Bakar Mas Tedjo.

Praktikum Kimia (?)

Aku masuk ke dalam kedai. Tak dinyana, Bapak Joko, sang pemilik langsung menyambut sendiri. Telah duduk di kursi, Mas Ardian, dengan segelas Vietnam Drip yang tinggal sedikit. Sepertinya mereka telah berbincang cukup lama tadi. Belum juga pantat menyentuh kursi, Pak Joko langsung menawari minum apa. Disodorkan kepadaku lembar menu.

Kami bergerak dari meja menuju meja lain. Beliau memamerkan peralatan kopinya. Aku memesan V60 hanya sebatas penasaran dengan cerita Mbak Aqied beberapa waktu lalu, dengan biji kopi Gayo. Sederhana saja, karena ingin ke Aceh, minimal aku merasakan kopinya dulu, semoga setelah itu raga ini bisa berangkat ke Aceh.

Aku mencermati pergerakan tangan barista di balik meja. Memasang gelas, memasak air, memasukkan biji-biji kopi ke dalam sebuah mesin seperti blender. Memencet tombol-tombol di sebuah mesin digital. Semuanya aku tak mengerti. Semuanya demi segelas kopi encer, sementara kelebihannya ditaruh dalam sebuah botol. Semuanya lebih mirip sebuah praktikum kimia daripada meracik kopi.

“Ayo, pesan apa, Mas? Di sini yang menjadi andalan adalah Kambing Bakar dan Nasi Goreng Seafood.” Begitu apa yang disampaikan sang pemilik. Beliau kemudian langsung meminta sang juru masak untuk membuatkan dua masakan andalan.

Kami kembali ke meja kami. Beliau bercerita awal mula tempat ini.

Nasi Goreng Seafood
Nasi Goreng Seafood

Kambing Bakar Rica

“Dulu sempat mau hancur, Mas. Pengelolaan keuangannya kacau. Masa dengan omzet 40 juta perbulan, masih harus berhutang?”

Aku hanya terdiam.

“Akhirnya saya ambil alih. Saya rombak dan mulai lagi dari nol. Alhamdulillah sekarang sudah bisa balik lagi. Semua itu karena satu hal: kejujuran.”

Aku masih terdiam, kali ini sambil mengingat bagaimana atasan pernah bercerita tentang hancurnya beberapa perusahaan di Yogyakarta karena alasan yang sama. Ketidakjujuran pegawai. Korupsi yang membuat perusahaan kemudian kolaps.

Di tengah pembicaraan kami, pramusaji menyajikan makanannya. Seperti biasa, aku dan Mas Ardian melakukan ritual sebelum makan. Berdoa, iya. Tapi ada lagi sebelum itu. Betul, foto-foto. Kurang afdal rasanya makanan yang tersaji begitu apik di meja tidak masuk ke dalam kamera. Bukan, ini bukan sebatas #DemiKonten.

Ritual berfoto dan berdoa usai, kami segera mengambil sesuap demi sesuap. Mas Ardian mencoba Kambing Bakar, aku memilih Nasi Goreng Seafood.

Kambing Bakar Rica

Nasi Goreng Seafood

Enak. Tapi kurang pedas. Meskipun aku sudah meminta kepada juru masak untuk membuat Nasi Goreng Seafood yang pedas. Sepertinya standar pedas di sini kurang tinggi. Aku juga mencoba Kambing Bakar bumbu Rica yang Mas Ardian pesan. Ternyata sama, kurang pedas. Aku langsung saja menyampaikan hal tersebut kepada beliau.

Beruntung, nasi goreng adalah makanan yang tidak pernah salah, kapanpun dan di manapun penyajiannya. Porsi potongan cumi dan udang juga bukan main-main, mencapai kurang lebih 40% dari satu porsi nasi goreng seafood.

Sementara daging kambing yang dimasak tak terlalu menonjolkan bau amis kambing. Tidak lembut, tapi juga tidak keras. Penuturan beliau, kambing yang digunakan adalah kambing jawa. Bukan kambing domba. Semasa hidupnya, kambing jawa lebih aktif bergerak. Kira-kira sama seperti ayam kampung dan ayam potong. Aku mengambil sepotong daging pada tulang iga. Menurut alm. Bapak Bondan Winarno, daging yang enak itu yang menempel pada tulang. Daging itu aku pegang dengan tangan dan memakannya langsung tanpa memisahkan daging dari tulangnya.

Nasi Goreng Seafood dan kawan-kawan

Obrolan kami sampai pada satu titik, saat aku bertanya, “Pak, saya memang sudah lama tidak ke Wonosari, tapi setahu saya tidak ada kedai kopi sama sekali ya?”

Bapak Joko dengan bangganya mengatakan, “Betul, Mas. Justru itu. Saya melihat peluang itu. Saya bisa menjadi pelopor untuk kedai kopi di Gunungkidul.”

Sebuah langkah berani dan berisiko. Aku menilai karena tampaknya belum cukup tinggi peminat kopi racikan barista di sini. Berbeda halnya dengan di kota. Namun aku yakin, beliau sendiri sudah memperhitungkan hal tersebut. Tidak ada data valid yang bisa membuatku memberikan penilaian apakah kedai kopi Gading akan sukses atau berhasil. Yang aku pahami sampai sekarang, orang-orang sukses itu berani mengambil langkah berani dan berisiko. Dan tak lupa, terus belajar dan berubah.

Barista Muda. Beliau adalah Putra Sang Pemilik Kedai

Dalam perjalanan pulang, aku berdoa semoga beliau dapat sukses dan menjadi seperti apa yang dicita-citakan. Tentu saja dalam keadaan dan keyakinan untuk kembali berkunjung ke sana suatu saat nanti.  Satu lagi yang aku yakini: bersantap di Kedai Kopi Gading bukanlah hal sia-sia bagi pengunjung nantinya. Perut kenyang, hati mereka juga pasti senang.

Kopi Gading
Jalan Yogyakarta – Wonosari Km. 7, Gunungkidul, Yogyakarta


73 thoughts on “Belajar Integritas di Kambing Bakar Mas Tedjo

  1. Setuju soal kunci usaha: kejujuran. Orang kalau gak kuat iman pegang uang, bahaya.

    Wah, jadi ini termasuk pelopor kedai kopi di Gunungkidul ya? Sangat menarik. Kambing bakarnya juga bikin nyam nyam hahaha.

  2. Aku jadi paham level kepedasanmu gara-gara baca jumlah lombok yang Mas Gallant pesan ketika membaca tulisan tentang ayam geprek. Eh tapi sik, sik, tapi kok aku pernah mendengar kamu nggak bisa menikmati makan yang terlalu pedes mas?
    Mungkin nasi goreng seafood itu pas di lidahku. Soalnya aku penikmat pedes sedengan :p

    Semoga Kedai Kopi Gading ini nantinya dipenuhi orang-orang loyal dan jujur, sehingga tidak lagi jatuh di lubang yang sama. Ohya, memang di Jalan Wonosari ini masih jarang ditemukan kedai kopi. Banyaknya sejenis mi ayam, bakso, soto, oli*ve dan kawan-kawannya.

    1. Aku sendiri mulai doyan pedas sejak makan di salah satu gerai ayam cepat saji gitu.
      Cuma kalau yang sekarang memang kurang pedas, Mbak. Itu diakui sendiri oleh pemiliknya. Dan langsung jadi catatan waktu itu. Semoga nanti bisa diubah.

      Nah iyes. Biasanya cuma kedai-kedai sederhana. Patut dicoba kalo lewat, Mbak 🙂

  3. Akhirnya tulisan baru. Yeay!

    Kerja dimanapun memang jujur itu kuncinya.

    Masakannya kurang pedas? Mungkin dikondisikan dengan lidah orang jawa yang memang tidak doyan terlalu pedas kali ya. Kambing bakar ricanya menggoda tapi sejujurnya saya kurang suka daging kambing. Tapi #demikonten… ehh demi gak penasaran kayaknya hrs tetap dicoba tuh. Hehehe.

  4. Kenapa harus Kambing Jawa? Kenapa nggak Kambing Sunda, Kambing Bali, Kambing Batak, Kambing Betawi? :p

    Ah kamu bikin aku pengin liburan ke Jogja lagi. Suatu saat, kalo aku ke sana. Aku harus pesan makanan yang super duper pedes banget banget banget, biar pedesnya pas ya 🙂

  5. Kasihan ya pernah ‘jatuh’ dulu gara-gara pengelolaan keuangan yang kurang beres. Semoga kali ini sukses karena tentu sudah belajar dari pengalaman dulu itu.

  6. Wkakaak, aku ngekek saat baca “lebih mirip praktik kimia” haya bener jugak 😂
    Kl mudik wonosari, mampir ah.. Pengen nyoba kambing bakar rica, kayanya pedesanya pas dg seleraku, karena sadar diri selera pedasku rendah. . Hhh

  7. Haaaaiiii Tsany ^_^
    Rasanya mak cleguk baca postingan ini. Ya nasi gorengnya, ya kambing bakar rica.
    Tapi, sempat salah fokus, sih. Tadi ngebayanginnya kacau. Yang kebayang itu kambing bakar dibentuk jadi kayak kaki kepiting. Hihihihi.

    Btw, senang bisa blogwalking lagi. Ternyata ngeblog masih seseru dulu ya.

    Terus ngeblog, Tsany! ^_^

  8. Kejujuran serta orang-orang sukses itu berani mengambil langkah berani dan berisiko… WORDS!
    Tapi “nasi goreng tak pernah salah” ini lebih words! Hehehe…

    Salam kenal, kak

  9. Memang banyak perusahaan yang hancur gara-gara kurangnya pengawasan. Untung lah sekarang beliau sudah insyaf ya Mas. Semoga Kambing Bakarnya menuai sukses. Amin

  10. Lah baru tau ada kambing jawa segala.. Hahaha.

    Cerita dan fotonya bikin ngiler! Tapi, sebenernya saya lebih suka daging kambing yang masih beraroma kambing (ya ga sampe bau banget). Tips, Mas… Kalau makanan yang udah disodorin ke meja kurang pedes, biasanya saya minta rawit. Nampol 🙂

  11. Justru hewan yang banyak bergerak itu katanya alot dagingnya, itu kok enggak. Pernah lihat dokumenter tentang peternakan sapi yang dagingnya premium. Nggak boleh banyak bergerak, dimanja pokoknya. Aku jadi ngiler penasaran sama kambing bakarnya huhuhu.

  12. Kayaknya dimana2 kejujuran selalu jadi no.1 ya.
    Btw, saya kok jadi laper ya setelah liat foto2nya.
    Salah banget kesini pas jam makan malah, bhahahha 😆
    Itu kambing bakar ricanya kayaknya jadi idola saya 😀

  13. ayooo ke aceh bang, biar murah via KL aja.. jangan naik garuda (ntar gw usir lo dari aceh klo naik garuda terus pamerin ke gw!!)

    btw, dia mau beli kopi dari kebun ku di gayo nggak? 😀
    yaaa kali2 bisa numpang jualan, sis

    Saya tunggu di aceh, dan insya Allah akan saya ajak menikmati sajian kopi Gayo terbaik di kota banda Aceh.. tenang, kopinya saya bayarin 😉

  14. Entah kenapa hari ini aku blogwalking isinya cerita makanan semua. Jadi laper. Kambing bakarnya bikin ngiler. Apalagi dikasi keterangan tidak empuk tapi juga tidak keras.

  15. eh ini disebelah mana deh mas tempatnya, aku baru sekali sih ke wonosari hhee
    tapi itu pengalaman unforgetable banget.
    aku juga baru tau kalo disana penyebutan daerah itu pakai dukuh, jadi pngen explore wonosari lagi.

Komen aja dulu, nanti dikomen balik