Bersepeda Keliling Taman Purbakala Prambanan

Tak seperti hari libur yang lain, kali ini aku tidak lagi menarik selimut selepas salat Subuh. Tanggal merah, matahari bersinar hangat, langit biru, hari yang cerah. Kombinasi-kombinasi yang menyenangkan untuk memulai hari. Waktu masih menunjukkan pukul tujuh pagi, saatnya mencari sarapan nasi kuning dulu, baru kemudian mandi. Mengenakan kaus yang pantas dan celana, kemudian menyalakan dan memanaskan mesin motor. Sementara anak kos lain masih berkutat dengan mimpinya. Bermimpilah yang dalam, teman, karena semua berawal dari mimpi.

******

Candi Prambanan
Candi Utama Prambanan

Tujuanku kali ini ke arah timur Yogyakarta, Prambanan. Menuju candi yang sudah jamak dikunjungi, Candi Prambanan. Candi bercorak Hindu terbesar ini hampir selalu ramai tak peduli itu libur atau tidak.

Di hari libur, di tengah pekan seperti ini lalu lintas Yogyakarta masih tidak terlalu padat. Apalagi masih cukup pagi. Bahkan di area parkir candi juga belum banyak bus besar yang parkir. Hanya ada beberapa mobil kecil dan satu dua bus saja. Sepertinya Candi Prambanan juga belum ramai.

Tiket masuk sudah di tangan. Pintu pemeriksaan juga bukan masalah berarti. Pengecekan tidak terlalu rumit karena memang tidak membawa apa-apa. Termasuk hati yang dicuri. Hanya tas ransel warna hitam berisi barang-barang yang tak pernah aku keluarkan. Masih pukul sembilan pagi, tapi sepertinya matahari lebih bersemangat dari hari sebelumnya. Panasnya cukup keterlaluan. Sayangnya, aku lupa membawa botol minum.

Tiket Candi Prambanan sendiri ada beberapa macam, selain dibedakan antara wisatawan nusantara dan asing, ada beberapa paket wisata yang ditawarkan. Di antaranya: Paket Prambanan – Plaosan – Sojiwan dan Paket Prambanan – Ratu Boko. Khusus Ratu Boko, tersedia shuttle yang akan mengantar ke dan dari Ratu Boko. Namun shuttle hanya beroperasi hingga pukul empat sore saja. Bagi yang ingin menikmati sunset di Ratu Boko yang terkenal itu, bisa dengan membeli paket Prambanan – Ratu Boko, tapi tak perlu ikut shuttle. Jadi bisa juga berkeliling di Prambanan dulu sampai puas, lalu ke luar, dan naik kendaraan pribadi ke Ratu Boko. Selama tiket terusan tersebut tidak hilang, tidak perlu lagi membeli tiket di Ratu Boko.

Baca juga : Swastamita Candi Ijo yang Tak Berubah

Aku melewatkan tiga candi utama Prambanan yang tinggi dan besar itu. Tujuanku bukan untuk melihat mereka, tapi bersepeda mengitari taman purbakala. Mungkin untuk yang belum tahu, Taman Purbakala (begitu yang ditulis di Wikipedia) Prambanan meliputi Kompleks Candi Prambanan, Kompleks Candi Sewu, Kompleks Candi Lumbung, dan Kompleks Candi Bubrah. Candi Sewu, Lumbung, dan Bubrah berada di sisi utara candi utama Prambanan. Jadi sebetulnya dengan harga tiket (saat itu) Rp30.000,00 untuk wisatawan nusantara, tak hanya candi utama yang bisa dinikmati melainkan candi-candi lain di sisi utaranya. Malah aku hanya memotret candi utama itu saat akan ke luar, mengakhiri kegiatan ini, sebatas formalitas.

Aku tak mengacuhkan kegagahan candi trimurti, memilih langsung menuju tempat penyewaan sepeda. Rp20.000,00 untuk satu sepeda single yang dapat digunakan selama satu jam. Ada juga sepeda yang bisa digunakan untuk dua hingga tiga orang, tentunya dengan harga yang sedikit lebih mahal. Ada juga tambahan biaya jika ingin diperpanjang waktu sewa. Meski sebetulnya tidak ada pencatat waktu yang tertempel di sepeda, tapi aku tak menyarankan untuk melebihi waktu penyewaan sepeda. Aku sendiri rasa-rasanya mengembalikan sepeda sebelum waktu satu jam berakhir. Karena aku takut kalau ternyata aku sudah melewati batas waktu peminjaman.

Untuk rute sendiri sebetulnya sudah dibuatkan oleh pihak pengelola sehingga menikmati candinya bisa berurutan. Urutan candi tersebut: Lumbung, Bubrah, Sewu. Namun jangan berpaku pada urutan tersebut, mau melihat Sewu dulu juga sah-sah saja kok.

Candi Lumbung

Candi Lumbung
Candi Lumbung dari Luar Pagar.

Bagai seorang anak yang mendapat sepeda baru setelah membantu ayah, aku girang dan mengayuh sepeda dengan semangat. Dan tentu saja, langsung mencoba memutar-mutar kenop pada sepeda, mencari ukuran roda gigi yang pas, baik roda gigi depan maupun belakang. Mungkin aku bisa saja beratraksi dengan mengangkat roda bagian depan, tapi urung karena pasti terlihat norak.

Candi Lumbung adalah candi pertama sesuai urutan dari rute sepeda. Tak terlalu jauh dari tempat peminjaman sepeda mungkin sekira seratus meter. Dalam kompleks candi hanya ada satu orang wisatawan asing dengan kamera yang cukup besar. Ia asyik memotret. Sementara aku masih berdiri di luar pagar sambil berpikir “Ini mau dipotret dari sisi mana ya?”

Candi Lumbung
Salah Satu Puing di Candi Lumbung

Si turis tadi mungkin menganggap aku menunggunya untuk bergantian memotret. Setelah melihatku, ia tersenyum dan pergi. Aku hanya membatin, “Lah?!”

Sepeda diparkir di luar pagar, tak lupa dikunci. Meski hanya ada aku (dan si turis tadi yang sudah pergi), tetap saja aku tak mau jika tiba-tiba ada Sweeper yang menyamar dan mencuri sepeda. Akupun masuk ke dalam kompleks Candi Lumbung.

Candi Lumbung
Bagian Utama Candi Lumbung

Di dalam kompleks Candi Lumbung, terdapat satu bangunan yang tak utuh lagi berada di tengah. Ia dikelilingi oleh beberapa candi yang lima di antaranya masih terlihat utuh sementara sisanya sudah berupa puing-puing. Disampaikan oleh sebuah laman, Candi Lumbung terdiri dari satu candi utama dan enam belas candi perwara. Mungkin sisa candinya masih dalam bentuk reruntuhan karena gempa tahun 2006 itu.

Candi Bubrah

Candi Bubrah
Candi Bubrah Menjulang Tinggi

Matahari semakin meninggi, aku meninggalkan Candi Lumbung, mengayuh sepeda menyusuri jalan setapak, bergerak sekitar lima puluh meter ke arah utara, menuju Candi Bubrah.

Sama seperti sebelumnya, aku mengunci sepeda di luar pagar kompleks candi. Di dekat Candi Bubrah terdapat suatu bangunan berbentuk rumah seperti sebuah warung yang sudah tutup. Di situlah aku memarkir sepeda. Lumayan agar kepanasan. Seorang penjual minuman menghampiri, kebetulan sedang haus, aku memilih air mineral botol.

Candi Bubrah
Candi Bubrah Berdiri Kokoh
Candi Bubrah
Puncak Candi Bubrah

Candi Bubrah menjulang tinggi di tengah dengan pintu menghadap di timur. Karena aku masuk dari barat, bisa dibilang aku masuk lewat belakang. Namun memang pagar candi terbuka dari empat sisi arah mata angin. Bisa masuk dari mana saja. Aku lihat Candi Bubrah tidak memiliki candi perwara. Ia berdiri tegak di tengah dengan gagahnya.

Di dalam Candi Bubrah rupanya ada sebuah keluarga terdiri dari seorang ayah, ibu, dan anaknya. Rupanya, ada juga wisatawan nusantara yang ke sini. Tak terlihat sepeda lain selain sepedaku, berarti keluarga ini berjalan kaki. Memang, di antara semua candi yang ada dalam Taman Purbakala ini, hanya Candi Prambanan yang ramai. Sisanya sepi. Kecuali Candi Sewu yang memang menjadi perhentian sementara bagi rombongan yang naik odong-odong. Itupun tidak seramai candi utama. Jadi akupun bebas berlarian ke sana ke mari, berfoto tanpa takut “bocor”.

Candi Sewu

Candi Sewu
Candi Sewu dan Reruntuhannya yang Belum Lengkap

Berada di sisi paling utara Taman Purbakala, Candi Sewu menjadi candi terakhir yang aku datangi hari itu. Matahari juga semakin meninggi, cuaca sangat cerah, tentunya sangat panas.

Sewu dalam Bahasa Jawa berarti Seribu, meski begitu, dalam papan informasi dikatakan Candi Sewu tidak sampai seribu, hanya memiliki total 249 candi. Candi Sewu, Bubrah, dan Lumbung, semuanya berlatar agama Budha. Tidak seperti Candi Prambanan.

Candi Sewu
Candi Utama dari Candi Sewu

Meski dikatakan memiliki 249 candi, tampaknya saat itu yang benar-benar utuh tidak banyak. Sisanya hancur berbentuk reruntuhan batu. Mungkin masih dalam tahap pemugaran meski aku hanya melihat pondokan kecil tempat beristirahat para “tukang” yang melompong.

Bagi yang menyewa odong-odong, Candi Sewu adalah perhentiannya. Meski odong-odong tak bisa berhenti lama, jadi pengunjung hanya dapat berfoto dari luar saja.

Di dalam kompleks Candi Sewu, sudah ada beberapa wisatawan yang didominasi oleh wisatawan asing. Itupun tak banyak dan bisa dihitung jari. Wisatawan asing tersebut pergi dengan kelompok kecil, dua hingga tiga orang saja. Bahkan tak jarang pergi sendirian seperti wisatawan asing dengan kamera besar yang aku temui di Candi Lumbung tadi. Rupanya ia telah sampai di Candi Sewu.

Candi Sewu
Wisatawan Asing Memotret Candi Sewu

Tampaknya Candi Sewu masih digunakan untuk beribadah. Terlihat di sisi lain candi aku menemukan ada sekelompok kecil orang, terdiri lima orang berpakaian kasual didampingi oleh seorang berpakaian seperti biksu. Menariknya biksu ini tidak lagi bertelanjang kaki, melainkan mengenakan sepatu sneaker. Sepertinya mereka juga sudah mengikuti perkembangan zaman.

******

Matahari sudah semakin berada di atas ubun-ubun. Aku merasa sudah terlalu lama meminjam sepeda. Aku mengembalikan sepeda ke tempat asalnya. Aku sudah merasa cukup puas, meski belum semua pertanyaan terjawab. Besar harapanku supaya semua candi-candi ini dapat segera selesai dipugar dan ditambahkan informasi yang lebih lengkap. Aku akan kembali nanti, Prambanan. Aku masih punya hutang melihatmu di kala senja.

Gallant Tsany Abdillah

Suka jalan-jalan dan menggalau tentang apapun. Pengen punya kamera (dan pacar) sendiri. Kerjasama dapat menghubungi ke alamat email: gallanttsany@gmail.com

84 thoughts to “Bersepeda Keliling Taman Purbakala Prambanan”

  1. Candi bubrah sudah tidak bubrah :p
    Terniat sih ini nyepeda di Prambanan, eh taman purbakalanya hingga bisa mampir ke beberapa candinya. Aku masih punya cita-cita ke Candi Sewu (soalnya belum pernah sampai sana).

    Satu jam nyewa sepeda itu menurutmu sudah cukup apa masih kurang mas untuk keliling-keliling?

    1. Hahaha iya mbak niat dari dulu ini baru terlaksana. Laksanakan mbak sebelum lupa hahaha.

      Kalau buat ngelilingi semua kompleksnya, cukup sih. Tapi kalau masih mau diem di candinya lama, misal mau belajar sesuatu, motret dan menikmati sepedaannya ya kurang banget si. Soalnya kompleks Prambanan itu nyaman banget sih buat sepedaan wkwk

  2. membaca tulisan ini kaya membaca tulisannya mas sitam. pakai bahasa aku dan sepeda. wkwkw
    langitnya pas cerah banget. emang, kalau seusai dari prambanan, menuju ke candi sewu naik sepeda itu menyenangkan sekali. terakhir aku kaya gt sama ebret, 2015 po ya. haha. rindu

    1. Nah iyaaa ada shuttle ratu boko juga. Ada paket wisata lain juga sih di Prambanan, Ci Len. Sekarang nggak hanya Prambanan – Boko tapi juga Prambanan – Sojiwan – Plaosan 😀

      Ayookk. Traktir aku lah *lho

  3. Susur candi emang enaknya pagi-pagi sih, belum terlalu panas dan belum terlalu rame. Jadi biaa foto-foto sepuasnya.

    Waah rupanya ada persewaan sepeda ya, aku baru tahu. Mungkin nanti nyoba pas ke sini. Selama ini cuma lewat doang kalo Prambanan mah wkwkwk

  4. Dulu cuma sempat foto dari luar pagarnya saja, saya lupa alasannya waktu itu kenapa kami tidak masuk 😀 wkwkwkw. Yaaaay jadi rinduuuuu …

      1. Wuahaha mungkin karena mahal 😀 pokoknya waktu itu teman saya bilang “Sudah, dari luar saja kita fotonya”. Ya sudah akhirnya tidak masuk. Iya kalau pagi, waktu itu kita perginya jam 11an siang begitu 😀

    1. Di area candi tdiak diperbolehkan. Tapi kalau mau foto dengan latar candi dan bawa sepeda sendiri, tinggal nunggu event tour de jogja. Biasanya ada tempat khusus buat foto bareng sepeda di area prambanan.

  5. Aku malah baru tahu kalau ada penyewaan sepeda buat keliling candi, Gal. Sepertinya menarik dan patut di coba. Berkali-kali ke Prambanan tapi belum pernah jalan sampai Candi Sewu, padahal kece juga tuh.

  6. hatimu siapa yang nyuri?? hahaha
    pengalamanku disini dulu tahun 2010an apa ya, pergi sama cewek, terus banyak yang bilang, jangan pacaran disini mas entar putus loh. masih gak ya mitos ini??

    1. Udah dicuri sama si anu. Nggak mau dibalikin pula :(((

      Eh iyo aku pernah denger mitos itu, Mas. Kalau nggak salah 2015an lah. Kayak e masih. Hahaha. Temenku tuh juga gitu, ke Prambanan bareng cowoknya, sekarang udah putus :)))

  7. berhubung dulu pas mampir kesini kondisi keuangan masih sangat diambang kepunahan, jadi ya, cuma beli tiket ke Prambanan saja. Padahal pengen beli yang terusan itu, terus mikir “wah duit e kan iso nggo tuku bensin pas mulih–lumayan” Hahaha.

    Saya dulu jalan kaki. Dari parkiran, pos tiketing, sampai kompleks Prambanan aja, udah capek. Belom lagi dari prambanan terus ke jalan keluar itu. Woh, ngos-ngosan. Jadi nggak mampir – mampir ke kompleks candi lainnya. Mungkin bisa buat referensi pas kunjungan selanjutnya, kalau bisa 😀

  8. Dua kali ke Prambanan, tapi aku gagal mengenali nama-nama candinya. Makasih Mas Gallant, jadi tahu sedikit nama-nama candi di Komplek Prambanan 🙂

  9. Pengen ke Candi Prambanan sejak dulu, karena gue ga mau cuma tau dari pelajaran sejarah doang, tapi pengen ke sana langsung juga. Nunggu ada yang traktir gitu… wkwkwkwkwk

  10. dulu keliling prambanan malah lari mas, (pas ada acara lari)..hahhaha..jadi cuma lari aja, ga sempet foto-foto apalagi baca keterangan tiap candi.

    seru juga kalau bisa keliling candi prambanan pakai sepeda. Mungkin waktunya bisa ditambah juga, biar ga diburu-buru waktu. Ehm, terus kalau ada paket yang dirabahkan seorang guide bakal lebih seru. Pengunjung bisa sekalian belajar sejarahnya. ga cuma sekadar foto-foto aja 😀

  11. kok murah sih, tahun ini pas mudik sha istirahat di prambanan masuknya sekitar 45-50ribu gituu cuma yang utamanya aja. Dulu pernah beli tiket terusan tp gak ke boko, terus yaa masuk ke candi yang bayar lagi tiketnya (apa tuh namanya?).

    Baru tahu kalo ada sepeda, sha tiap kali ke sini gak kuat jalan muterinnya. Jadi ga pernah muterin semua area. Jogja puanaass banget! Hahaha

  12. Aku belum nyoba ke beberapa candi itu, entah mengapa rasa penasaranku sama candi-candian mulai berkurang. Terakhir ke candi ya ke Prambanan minggu lalu, itu pun rame banget bikin kepala pusing. Orang-orang berbondong selfi wkwkw

  13. Selama ini ke candi selalu naik mobil. Kok kayaknya seru ya kalau coba naik sepeda. Lebih bisa menikmati banyak tempat secara bebas ketimbang pake mobil.

        1. Nggak bisa, Mbak. Karena bagaimanapun kalau bawa kendaraan pribadi harus diparkir di luar di tempat parkir. Tak terkecuali sepeda. Bisa sih bawa sepeda masuk kalau memang sedang ada event sepeda 🙂

  14. Anjaaaay, kok cakep sih lan, gak ada bocor pulak.
    Asik juga ya sekarang ada sewa sepeda. Terakhir masuk Prambanan kyknya 2009. Wkwkwk yaampun, sudah 10 th aja, padhal sering ngelewatin. Dan aku belum pernah ke yang Candi Lumbung & Bubrah itu kayaknya. Cm di Prambanannya, sama Candi Sewu. Hufff

    1. Hmm gimana si??? Katanya blogger lintas provinsi hadeeeeh.
      Haha iya maasss nggak akan bocor kalo di sini. Soalnya nggak ada yang main. Mayan kan cari foto ala-ala sambil minta difotoin Hannif atau Pak Pres. Bahkan di Candi Sewu juga sepi banget. Malah bule bule lho yang ke sana 😀

  15. Aku mengunjungi Candi Prambanan yang ke sekian kalinya justru dengan berlari. Gak jauh-jauh kok. Cuma sekitar 10 km aja. Sudah termasuk Candi Plaosan segala. Tapi puanase pol :'(

  16. Soal bersepeda, aku masih di tahapan pengen jalan yang jauuuh banget dari rumah, tapi pulangnya gak mau sepedaan buahaha. Eh kalau di Yogya gini banyak destinasinya ya. Palembang juga sih, tapi tetep gak sebanyak Yogya.

Komen aja dulu, nanti dikomen balik