Mencicip Kopi Posong Temanggung

Bus berjalan pelan, menyusuri tanjakan dan licinnya jalan, lalu berhenti di depan sebuah gapura. Titik berhenti bus kurang ideal, tepat berada di tikungan. Kami melangkahkan kaki menuruni anak tangga bis. Hujan gerimis menyambut kami di desa Posong, Temanggung. Payung yang dipersiapkan tak cukup untuk melindungi seluruh tubuh kami dari rintik hujan.

Di sebuah rumah, dengan latar belakang Gunung Sumbing kami menuju. Dari jauh, aroma kopi sangat kuat menyeruak. Di dalam rumah ini dihuni oleh sang pelopor. Selamat datang di kediaman Bapak Tuhar.

Kami semua duduk di ruang tengah dalam rumah yang tak terlalu besar. Telah disediakan berbagai camilan. Baru saja aku duduk, sajian utama tiba. Kopi Posong.

Kopi yang Disajikan

Pak Tuhar adalah pelopor dari Kopi Posong. Beliau memulai menanam kopi pada tahun 2003 dengan pengetahuan seadanya. Berkat pendampingan SLPHP, beliau akhirnya mengerti bahwa kopi yang baik adalah kopi yang dipetik saat kulitnya berwarna merah bukan hijau seperti yang biasa beliau lakukan.

Sejak 2012 beliau mulai mengekspor kopinya ke luar negeri. Saat itu hanya dua ton saja. Pada tahun berikutnya meningkat menjadi empat ton dan tahun 2014 sebanyak delapan ton. Tujuannya adalah Korea Selatan, bukan Korea di Cilacap.

Baca juga: Berkunjung ke Desa Benowo Purworejo

Biji Kopi yang Sudah Merah

Mengapa Kopi?

Kopi memiliki nilai jual yang sangat tinggi. Tentunya bila diolah dengan tepat. Selain itu penikmat kopi ada di mana-mana dan tak peduli usia, baik muda maupun tua. Apalagi sekarang kopi sudah menjadi hits di kalangan anak muda. Kopi tak hanya dijual di warung-warung tapi juga cafe. Harganya pun mulai dari lima hingga ratusan ribu rupiah.

Selain itu, tanaman kopi yang perdu bermanfaat dalam pengendalian air tanah. Saat musim hujan, tanaman kopi akan menyimpan air-air hujan dan menampungnya di tanah serta mencegah terjadinya erosi. Sementara saat musim kemarau, air tanah tersebut akan membuat daerah-daerah di bagian bawah tak mengalami kekeringan.

Biji Kopi yang Sudah Matang

Kopi memiliki sifat higroskopis, artinya rasa kopi bergantung pada tanaman di sekitarnya. Tanaman kopi bersebelahan dengan teh, maka akan tercipta kopi rasa teh, dengan pohon jeruk akan tercipta kopi rasa jeruk. Untunglah sikapmu padaku itu bukanlah sebuah tanaman.

Sementara itu, Temanggung sejak lama dikenal sebagai penghasil tembakau berkualitas tinggi. Lokasinya yang berada di antara dua gunung, Sindoro dan Sumbing, mendukung kedua tanaman tersebut untuk tumbuh subur.

Sebagai komoditas utama, tembakau masih tidak tergantikan. Akhirnya, kopi hanya sebagai tanaman pendamping bagi tembakau. Namun karena sifat higroskopisnya, rasa kopi akan terpengaruh dengan rasa tembakau. Tapi, cara menikmati kopi terbaik adalah bersama dengan rokok bukan? Lalu bagaimana jika rasa kopi tersebut sudah mengandung rasa tembakau?

Cara Produksi Kopi

Kami masuk ke dalam sebuah ruangan yang bersebelahan dengan ruang tamu. Seorang pria paruh baya berada di dekat sebuah mesin. Kami lantas disuguhi sebuah pertunjukan yang menakjubkan. Bapak tadi memasukkan biji kopi ke dalam mesin,  berpindah ke bagian panel, memencet tombol-tombol yang ada di panel tersebut, hingga muncul angka-angka yang tak aku mengerti, dan sesaat kemudian.. “Wurrrrr!!” Semburan api keluar dari salah satu pipa dan terdengar suara “Wuuuunnnggg”. Beliau menjelaskan, ini adalah proses Roasting.

Proses Roasting Menggunakan Mesin

Sesungguhnya untuk menikmati rasa kopi dibutuhkan proses yang panjang. Rasa kopi sudah dipengaruhi sejak dia ditanam. Kemudian saat pemetikan biji kopi, menjemur, memilah, roasting, bahkan suhu air yang digunakan untuk menyeduh kopi pun akan memengaruhi rasanya.

Secara tradisional, kopi yang telah dipetik akan dijemur di bawah terik matahari kemudian disangrai pada wajan. Setelah matang, kopi kemudian ditumbuk hingga menjadi bubuk. Proses tradisional ini dikenal sebagai proses natural.

Kopi Pak Tuhar sudah diproduksi menggunakan cara modern dan sesuai standar internasional. Hal ini dilakukan untuk meningkatkan rasa dan harga kopi. Itulah mengapa harga kopi tubruk di warung dan di cafe berbeda jauh. Salah satunya adalah karena proses produksinya.

Proses roasting pun dilakukan dengan mesin. Kopi dimasukkan ke dalam mesin dengan teknologi aliran udara panas (hot air flow). Proses ini dilakukan pada suhu antara 180-200°C. Dengan menggunakan mesin, kopi akan terpanggang secara sempurna dan merata.

Kopi diproses dengan metode Peaberry

*****

Biji Kopi

Kopi Posong tergolong dalam jenis kopi arabika. Kopi arabika hanya dapat tumbuh pada ketinggian lebih dari 900 mdpl, sementara kopi robusta tumbuh di dataran yang lebih rendah atau kurang dari 900 mdpl. Kopi arabika memiliki ciri bentuk biji yang gepeng dan garis tengah yang bengkok. Sementara biji kopi robusta lebih bulat dan garis tengah yang lurus.

Pak Tuhar saat ini sedang berusaha untuk mematenkan nama kopi buatannya. Beliau menggunakan plesetan namanya. Dari Tuhar diplesetkan menjadi Two Heart. Pengucapannya mirip. Istilah Two Heart ini juga menyiratkan pada letak geografis Posong yang berada di antara dua gunung, Sindoro dan Sumbing.

Kopi yang disajikan saat itu terasa pahit dan sedikit asam. Aku berbisik kepada Vanisa bermaksud meminta gula. Aku tak terbiasa meminum kopi pahit tanpa gula. Bagiku, biarlah kehidupan pahit, kopi jangan. Mungkin Pak Tuhar mendengar bisikanku.

Beliau lantas bertutur, kopi lebih enak dinikmati tanpa gula. “Penikmat kopi akan minum tanpa gula, sementara peminum kopi akan meminum kopi dengan gula,” terang Pak Tuhar. “Gula juga akan merusak rasa kopi. Dengan meminum kopi tanpa gula, kita akan merasakan rasa kopi yang sesungguhnya.”

Pak Tuhar berkata bahwa jika kopi ini ditambah gula justru rasa asamnya akan bertambah. Tapi aku tetap saja menambahkan beberapa sendok gula. Rasanya? Bukan manis, tapi malah makin asam. Luar biasa memang pengalaman bapak satu itu.

Mungkin memang benar kata mas Ardian, “Yang manis-manis itu kadang bikin ‘asem'”.

Jadi kamu suka kopi rasa apa?

Acara ini dalam rangka Familiarization Trip yang diselenggarakan oleh Dinas Koperasi dan UMKM Provinsi Jawa Tengah pada tanggal 17-19 November 2017

*****

Varian Kopi Posong

Kopi Posong Pak Tuhar (Two Heart)
Desa Tlahap, Kecamatan Kledung, Temanggung
081226999215


58 thoughts on “Mencicip Kopi Posong Temanggung

  1. Dibandingkan berkunjung ke tempat pengolahan daun teh, datang ke kedai kopi (yang ada tempat pengolahannya) jauh lebih menyenangkan. Ntah kenapa teh itu baunya busuk banget kalo di pabrikan. Sedangkan kopi kalau sudah di pabrik, udah terasa wangi. (kalau mentahan pas dijemur sih bau juga hehehe)

      1. Aku beberapa kali ke kebun kopi. Menariknya, ternyata kopi itu menyerap aroma tumbuhan di sekitarnya. Makanya kadang di antara pepohonan kopi, juga ditanam tanaman lain, seperti jeruk nipis.

  2. Bapakku pun masih menerapkan pemetikan kopi dari kebun dengan cara massal entah itu yang sudah merah hingga yang masih hijau katanya sih biar ga bolak-balik metik jadi dalam satu panen bisa dapat banyak, pdahal itu cara yang salah wkwkwk.
    Aku pun belum bisa minum kopi yang murni pahit tanpa gula walaupun itu cara yang salah katanya, tapi kemarin nyoba2 kopi pahit memang terlihat perbedaan satu jenis kopi dengan kopi lainnya, ada yang kecut, pahit banget, ringan dll, dan itu bisa terasa kalau ga dikasih gula

  3. Hahahaha bener kok mz. Sebenernya minum kopi itu tanpa gula. Generalisasi di masyarakat kita yang hobi ngopi tapi sachetan aja yang menyebabkan secara bergenerasi-generasi begitu terus, makanya kalau gak pake gula jadi kayak ada yang kurang.

  4. Jadi yang benar yang mana? Desa Posong atau Desa Tlahap? Aku bukan penikmat kopi dan minum kopi pun juga kalau nggak kepingin aja. Teh juga harusnya nggak diminum dengan ditambah gula. Di Jepang teh dingin, kalengan, botolan, pahit semua wkwkw. Waktu haus dan membayangkan segarnya frestea dan setelah bayar langsung diminum lha kok pahiiiiiiiiit.
    Oh ya justru kalau diolah dengan proses modern, harga sebuah barang akan semakin murah karena dengan mesin bisa memproduksi masal.

    1. Aku juga baru inget pas udah di rumah, namanya Kopi Posong kok tempat desanya Tlahap. Tapi pas aku googling, ternyata Posong itu bagian dari Tlahap. Jadi mungkin kayak dusun gitu, Mas. 😀
      Aku sih lebih seneng minum coklat aja. Hahaha. Sing manis manis ae lah :p
      Tapi kualitas barang bukannya tambah meningkat?

  5. Aku masih peminum kopi sebab kopi pahit atau Kopi tanpa gula belum begitu nyaman diterima oleh lidah. Mudah-mudahan setelah banyak belajar tentang kopi bisa juga menjadi penikmat kopi 🙂

  6. Wah pas dateng ke blogmu, sedang winter nih ya ada saljunya 😀
    Seru ya famtrip nya jadi tahu ternyata rasa kopi bisa menyesuaikan dengan tanaman yang ada di sekitarnya 🙂
    Cheers,
    Dee – heydeerahma.com

  7. sha juga akhirnya ngikutin jadi di tambahin gula. walhasil jadi asem pahit hahaha ga enak 😛 bener kata mbak ica, enakan tanpa gula 😀
    ujung2nya malah pesen teh. haha untung mas2nya baik, mau bikinin 😀

  8. Baru dengar jenis kopi yg namanya posong. Sayang sekali sy penderita magh sangat tidak dianjurkan untuk minum kopi, padahal saya suka minum kopi.
    Blog nya asik, banyak cerita perjalanan. Salam kenal dari Lombok 😀

  9. wah, rasa kopi Posong Temanggung kayanya enak banget. saya belum pernah coba.
    baca artikelmu jadi mau beli haha

    itu ngopi enaknya ada temen kopi dan temen ngopinya mas.
    biar lebih asyik 😀

Komen aja dulu, nanti dikomen balik