Mengenang Siola Surabaya

Siola

Aku mengenal gambar di atas sebagai Siola, salah satu pusat perbelanjaan tersohor di Surabaya. Gedung yang sangat luas dan memiliki tiga lantai ini dulu bukan bernama Siola. Whiteaway Laidlaw & Co. adalah nama pertama bagi Siola. Disesuaikan dengan nama pendirinya, Robert Laidlaw. Seorang pengusaha asal tanah Inggris yang membangun Siola tahun 1877, saat Indonesia masih berada dalam masa penjajahan kolonial Belanda.

Bertempat di Jalan Tunjungan, Surabaya, Whiteaway Laidlaw & Co. berdiri kokoh sebagai pusat grosir dan eceran terlengkap jauh sebelum Pusat Grosir Surabaya berdiri. Lokasinya sangatlah strategis. Jalan Tunjungan dari dulu memang dikenal sebagai salah satu kawasan perbelanjaan. Dan Whiteaway Laidlaw & Co. menjadi toko pertama di Jalan Tunjungan yang sekarang menjadi satu arah itu.

Waktu terus bergerak, zaman terus berubah. Jalan Tunjungan semakin berkembang pesat. Siola pun berusaha mengikuti zaman.

Siola juga mengalami beberapa kali perubahan nama. Pada masa pendudukan Jepang, Siola bernama Toko Chiyoda. Setelah hancur dibom Inggris selepas masa mempertahankan kemerdekaan tanggal 10 November, Siola dibangun kembali oleh kelompok pengusaha. Mereka adalah Soemitro, Ing Wibisono, Ong, Liem, dan Ang. Dari singkatan nama merekalah Siola ini kemudian digaungkan. Konsep Siola masih sama, sebagai pusat perbelanjaan dengan gaya a la mall.

Pada tahun 1999, gedung ini kemudian tutup. Ada banyak penyebab pastinya, namun yang jelas Siola kalah saing dengan Tunjungan Plaza yang berada di ujung Jalan Tunjungan. Tunjungan Plaza (TP) bahkan sekarang sudah memiliki Tunjungan Plaza 1 hingga 6. Luar biasa!

Saat masih kecil dulu, dibanding TP, aku lebih sering diajak orang tuaku ke Siola. Ya mungkin tidak terlalu sering, tapi setidaknya aku lebih sering berkunjung ke Siola dibanding TP. Mungkin alasan orang tuaku jelas, Siola lebih murah daripada TP yang terkesan sebagai mall elit.

Bulan Oktober lalu, ditemani Andhita (Dhita, panggilan akrabnya), aku mengunjungi kembali Siola di tengah Surabaya yang sangat terik. Di siang bolong, saat Surabaya mencapai suhu 32 derajat celcius. Aku mencoba mengingat kembali bentuk Siola saat aku ke sini. Tapi rupanya aku gagal.

Gedung Siola kini dibuka kembali dengan nama baru, nama yang lebih modern. Tunjungan City. Oleh Bu Risma, Siola disulap menjadi dua bagian. Museum Surabaya di bagian satu dan sebuah mall pelayanan publik di bagian yang lain. Siola tak bisa jauh-jauh dari kata mall. Meski sekarang difungsikan sebagai pusat pelayanan publik satu pintu bukan lagi pusat perbelanjaan.

Aku sudah tak mengenal kembali Siola sebagai pusat perbelanjaan. Aku tak sempat masuk ke dalam. Aku bahkan sudah lupa rupa Siola dulu seperti apa.  Tapi ada perasaan yang tak bisa dijelaskan ketika Siola disebut. Perasaan berisi kenangan yang bahkan aku tak bisa membuka kembali tabir tersebut. Seperti merindukan sosok yang bahkan kita tak tahu siapa dia. Ah, Siola.

Entahlah.

*****

Referensi:

  1. https://www.thearoengbinangproject.com/gedung-siola-surabaya/
  2. https://www.kompasiana.com/danielht/museum-surabaya-yang-menempati-gedung-bersejarah_580258ae587b61855d963b41
  3. http://idrisparkit.blogspot.co.id/2016/09/sejarah-gedung-siola-surabaya.html
  4. https://phinemo.com/destination/museum-surabaya-siola/

19 thoughts on “Mengenang Siola Surabaya

  1. Sekarang fotonya mengandung “tone” yang beda yaa? mungkin menyesuaikan dengan tema tulisannya yang menceritakan tentang sebuah bangunan yang menyimpan cerita kenangan. Jadi penasaran sama sisi Museum Surabaya di salah satu bagian Siola.

  2. Tahu nggak kalau Siola menjadi tempat kulakan vcd porno wkwkwkw. Masih ingat klo jalan di trotoar Siola selalu ditawarin kepingan bokep. Dan dipajang bebas tanpa tedeng aling-aling. Hampir sepanjang jalan hahaha.

  3. Keinget masa kecil juga. Dulu suka diajak main ke Siola. Waktu itu udah seneng banget.
    Tapi gedungnya masih berdiri kan ya? Udah lama gak mudik Sby soalnya hehe

  4. Sudaah lama sekali masuk siola, waktu aku kecil barangkali, padahal aku ya org surabaya, tp klo ga ada keperluan rasanya males, pdahal bisa jadi memori sendiri 😄

Komen aja dulu, nanti dikomen balik