Menjajal Mewahnya Jayakarta Premium

Cerita ini bermula saat pengumuman untuk mengikuti seleksi Calon Pegawai Negeri Sipil beberapa saat lalu. Aku berhasil melalui seleksi berkas dan lanjut untuk seleksi kompetensi dasar. Saat pendaftaran awal, aku diperbolehkan memilih lokasi tes, di antara Yogyakarta, Bandung, dan Jakarta. Tentu saja, dengan pertimbangan biaya dan waktu tempuh aku memilih Yogyakarta.

Seperti yang sudah-sudah, aku memang selalu numpang menginap tempat kosku yang dulu, Wisma Geosalma Pogung Dalangan. Berhubung temanku ini sedang mendapat mandat untuk melakukan penelitian di Jepang selama setahun, secara otomatis kamarnya akan kosong. Aku meminta izin untuk menghuninya selama dua hingga tiga malam.

Untuk perjalanan ke Yogyakarta, aku memilih naik kereta. Waktu tempuh yang lebih cepat dibanding dengan bus menjadi prioritas. Memang aku harus membayar lebih mahal. Tapi demi kenyamanan dan waktu tempuh, aku rela mengeluarkan uang sedikit lebih banyak. Aku sudah tak sekuat dulu yang bisa melakoni perjalanan dengan bus selama enam jam. Faktor usia sepertinya menjadi penentu.

Aku mengecek ketersediaan tiket. Mataku tertuju pada kereta api Jayakarta Premium. Harga tertera Rp 140.000 untuk subklas paling murah. Kereta baru ini menarik perhatianku. Tapi harga Rp 140.000 tentunya masih cukup mahal dibanding dengan kereta lain seperti Logawa (Rp 74.000) atau Sri Tanjung (Rp 94.000).

Berusaha tetap tenang, aku mencoba alternatif lain. Aku membuka Traveloka, salah satu partner resmi dari KAI. Dari laman muka, aku menuju laman promo, berharap ada promo kereta api di sana. BINGO! Ada diskon 30K dari Traveloka. Ketentuannya:

  1. Diskon hanya berlaku pada aplikasi android dan iOs
  2. Hanya dapat digunakan sekali sehari untuk satu perangkat yang sama
  3. Diskon 20% dengan maksimal diskon Rp 30.000, dan ternyata
  4. Masa berlaku hanya tinggal dua hari ke depan

Aku meminta bantuan teman. Sedikit drama karena ternyata tdia juga sudah menggunakan voucher tersebut di hari yang sama. Akhirnya aku meminta bantuan yang lain. Setelah arahan yang kuberikan melalui aplikasi Whatsapp, temanku segera mengirimkan tagihannya. Tertera harga Rp 112.000. Sudah dapat diskon 20%, kata temanku. Selisih Rp 28.000 yang sangat berguna. Uang tersebut bisa kugunakan dua kali makan nasi gudeg di depan Yamaha Jalan Kaliurang, dua kali makan nasi goreng bakso di Bu Ita, atau empat kali masuk ke Tamansari. Terima kasih, Anjar.

Baca juga: Ngabuburit Gudeg Yu Sum

Aplikasi Traveloka ini menjadi andalan dalam memesan tiket kereta. Selain karena sudah dikenal dengan nama besarnya sebagai agen pemesanan tiket pesawat dan hotel, di Traveloka sering ada diskon menggiurkan baik untuk pesawat, hotel, bahkan kereta api,Β  seperti pengalamanku itu. Melalui Traveloka, aku juga bisa memilih sendiri posisi kursi kereta sesuai keinginan. Enak, bukan?

Bukti Pemesanan Traveloka
Biaya yang Dibayarkan

Hari keberangkatan tiba. Mama yang sebelumnya dari Jombang menyuruhku untuk berangkat lebih awal. Kalau bisa Salat Jumat di Jombang saja kata mama. Jembatan Ploso yang menghubungkan antara Ploso dan Jombang sedang diperbaiki. Hanya dapat dilewati kendaraan kecil. Bahkan mobil elf pun harus memutar melalui Gedeg, Mojokerto. Waktu tempuh semula yang hanya 1,5 jam menjadi dua kali lipat.

Aku mengikuti saran mama. Aku berangkat jauh lebih awal. Pukul sembilan pagi (jadwal kereta pukul 16.00). Dari bus berukuran medium dengan rute Jombang-Babat-Tuban, aku diminta untuk turun di Terminal Ploso saja kemudian oper dengan angkot menuju Terminal Jombang. Namun aku masih harus membayar harga penuh dari Babat ke Jombang seharga Rp 15.000. Mungkin saat oper nanti, aku tak perlu membayar lagi, batinku.

Rupanya dugaanku salah, aku masih membayar lagi Rp 7.000 untuk perjalanan dari Ploso ke Jombang. Tapi tidak apa-apa karena angkot hanyalah transportasi satu-satunya yang memungkinkan. Angkot tak perlu ngetem karena langsung penuh oleh penumpang bus yang menuju Jombang. Dari terminal aku beralih ke angkot yang lain. Angkot berwarna merah tujuan Gudo melewati Stasiun Jombang. Harga yang kubayarkan untuk perjalanan dari terminal ke stasiun sebesar Rp 3.000 saja (dari yang biasanya Rp 5.000).

Aku memilih turun di depan lapas Jombang dan berjalan menuju Masjid Agung untuk menunaikan Salat Jumat. Selesai Salat Jumat, aku memutuskan untuk tidur di area masjid yang memang mengizinkan jamaahnya untuk tidur selama tidak di ruang utama masjid. Aku terbangun sekitar pukul 14.00. Cukup untuk menghilangkan kantuk dan menghindari panas yang menyengat di luar sana.

Selepas Salat Asar, aku menuju Stasiun Jombang dengan berjalan kaki kurang dari lima menit. Aku memasukkan kode booking ke dalam mesin Cetak Tiket Mandiri. Proses boarding berjalan lancar namun pihak KAI mengumumkan kalau kereta api Jayakarta Premium akan datang terlambat. Duh, kereta baru kok sudah terlambat saja sih.

Rupanya kereta hanya terlambat lima menit saja. Kalau cuma lima hingga sepuluh menit sih masih normal saja. Seperti harapan, Jayakarta Premium yang baru diluncurkan tahun 2017 ini sangat mewah. Bagian interiornya mirip seperti kereta eksekutif. Aku tersenyum bahagia. Kapan lagi bisa mencicipi kereta semewah ini.

Susunan kursi berderet dua-dua tidak berhadapan kecuali di tengah dengan separuh menghadap searah perjalanan dan separuh lainnya membelakangi secara permanen (tidak bisa diputar). Sayangnya kita tak bisa menentukan kursi yang mana yang akan searah perjalanan. Beruntung, kursi yang aku pilih, kursi 7C, menghadap searah perjalanan. Sandarannya juga tidak setegak di kereta ekonomi, baik keluaran lama maupun keluaran tahun 2016. Ditambah lagi, sandaran kursi bisa diatur kemiringannya. Rasanya seperti naik kereta eksekutif harga ekonomi.

Model toiletnya adalah toilet duduk. Persis seperti kereta eksekutif. Namun rasanya toilet lebih sempit. Mungkin ada bagian yang dipotong sehingga ruang utama penumpang sedikit lebih luas. Pendingin ruangan juga terasa cukup dingin, tapi tidak terlalu dingin. Di perjalanan, kru menawarkan persewaan bantal dan selimut yang tentu saja aku tolak. Lha wong cuma empat jam saja kok.

Jayakarta Premium via KAI121

Jayakarta Premium yang semula bernama Gaya Baru Malam Selatan (GBMS) Premium adalah kereta yang baru dioperasionalkan oleh KAI menggunakan rangkaian kereta kelas Premium. Dengan rute Surabaya Gubeng – Jakarta Pasar Senen. Lebih lengkap mengenai kelas kereta, silakan baca info perbedaan kelas kereta api.

Kereta api kemudian berhenti di Kertosono dan Nganjuk. Keterlambatan kereta tadi dibayarkan lunas di stasiun berikutnya, Madiun. Perjalanan berjalan lancar tanpa hambatan. Kereta berhenti di Barat untuk bersilang dengan Argo Wilis, sang raja di jalur selatan. Kemudian berhenti normal di Paron. Berhenti kembali di stasiun kecil (aku lupa namanya) untuk bersilang dengan Sancaka Sore dari Yogyakarta. Kemudian, Jayakarta Premium tak lagi berhenti hingga di Solo Balapan.

Aku merasa perjalanan kali membosankan dan sangat lama. Layar televisi yang sedari tadi menayangkan film Zootopia tak cukup menghiburku. Film selesai dan kemudian diputar video klip dari musisi barat maupun lokal. Dari Westlife, Backstreet Boyz hingga band-band seperti Dewa, Noah, atau Geisha. Lagu-lagu Dewa yang diputar cukup menghilangkan rasa bosan. Aku turut bernyanyi dalam suara pelan saat lagu berjudul Dewi diputar. Lagu-lagu dari Dewa ini memang masih enak didengarkan meski sekarang sudah tahun 2017. Sayangnya, kereta tidak memutar lagu-lagu Nella Kharisma atau Via Vallen.

View this post on Instagram

"Jangan lihat ke belakang terus. Sudah waktunya maju ke depan." . . Jadi ceritanya, beberapa hari yang lalu ikutan kuis dari @keretaapikita @kai121_ . Tugasnya, disuruh unggah foto selfie/wefie waktu naik kereta sambil cerita tentang pengalaman menariknya. Sayangnya selama naik kereta, lebih sering nggak pernah bawa kamera (karena emang gak punya) jadi mau nggak mau harus nyari stok foto lama. Dan kebetulan ada foto ini. Akhirnya aku memberanikan diri buat ikut dengan foto ini dan cerita tentang pengalaman naik kereta dalam keadaan belum mandi. . . Berapa kali naik kereta tapi dalam keadaan belum mandi? Jawabannya sih 2x. Kali pertama naik kereta dalam keadaan belum mandi, pas baru pulang dari Gunung Padang, Cianjur. Acara jalan-jalan bareng @kaskusepur . Jalan-jalannya sih hari Sabtu-Minggu. Berangkat dari Jogja, Jumat siang.Terpaksa transit di Tasikmalaya karena tiket langsungnya habis. Pas transit, nyempetin mandi di toilet stasiun meskipun sebenernya dilarang, jadi jangan ditiru ya. Lanjut perjalanan ke Jakarta, Bogor, Cianjur, tracking ke Gunung Padang, dan pulang di hari Minggu tanpa sempat mandi lagi. Jadi totalnya sudah 2 hari nggak mandi. Niatnya mau mandi di Stasiun Pasar Senen yang toiletnya cukup bagus. Eh karena datang terlalu mepet, jadilah langsung naik kereta Bogowonto tanpa sempat mandi dan cuma bisa ganti baju sama pakai parfum di toilet kereta. Lumayan. Harapannya, sampai Jogja hari Senin dini hari, Ternyata keretanya kecelakaan dan baru tiba hari Senin sore. Baiklah jadi 3 hari deh nggak mandi. . . Yang berikutnya, habis jalan jalan ke Bali bareng @akbar_t_fajar, @didit09, sama @hardyferrysian . Hari Rabu pagi cabut dari hotel, mandi tentunya. Habis itu muter-muter Bali dan malemnya langsung balik naik bis dari Denpasar ke Banyuwangi tanpa sempat mandi lagi. Di Stasiun Banyuwangi, niatnya mau mandi juga eh karena keretanya berangkat pagi-pagi sekali, jadilah langsung naik aja tanpa mandi. Baru sempet mandi lagi setelah tiba di Jogja malem harinya. Badan lengket nggak apa-apa lah ya. . . Tapi sayangnya, foto ini nggak menang di kuis itu. Gak apa-apa. Sama kayak caption pertama. Mari kita maju ke depan. Jangan lihat belakang melulu.

A post shared by Gallant Tsany Abdillah (@kidtsany) on

Heran juga karena baru kali ini aku merasa bosan. Biasanya untuk menghilangkan rasa bosan aku memilih untuk berjalan ke luar kereta saat sedang berhenti untuk silang. Tapi kali ini aku juga malas melakukannya. Mungkin karena aku sudah tidak sabar untuk segera berada di Yogyakarta.

Kereta Jayakarta Premium kemudian tiba di Stasiun Yogyakarta (Tugu) tepat waktu, pukul 20.16. Segera aku menuju ke luar stasiun tempat temanku sudah menunggu untuk menjemputku. Ah… Tiba juga di Yogyakarta yang masih basah akibat hujan di sore hari. Kenangan-kenangan lama segera memenuhi pikiran. Lengkap.

Lalu bagaimana dengan hasil tesnya? Ah itu tak perlu kuceritakan.

Bonus: Selamat mendengarkan


42 thoughts on “Menjajal Mewahnya Jayakarta Premium

  1. Aku jadi pengen nyobain kereta ini, tp versi Yogya – Gubeng πŸ˜‚. Ah besoklah kalo pulkam aku nyoba
    Naik kereta memang ide menarik, apalagi bisa pilih-pilih kursi sesuka hati πŸ˜‚, jadi gausa takut ga dapet kursi
    Semoga ujianmu berhasil mas huhaha

    1. Sayangnya kemaren yang subklas terendah nggak dapet di tengah mas Jo. wkwkw. Kalo aku favorit malah kursi 2 atau 16, jadi kalo reclining seatnya mau disenderin bisa maksimal nggak ganggu di belakang.
      Premium yang tengah 9-10 kalo gak salah. soalnya total seat 64 per kereta.

  2. bandung semarang gaada yang premium yak?
    takjub bener sampe hafal tempat duduk mana yang deket AC! hahaaha
    memang hujan itu, bikin muncul banyak kenangan. Kaya sore ini, bedanya sha sambil dengerin lagunya suzy πŸ˜€

    1. bandung jakarta yang ada premium. naik argo parahyangan πŸ˜€
      tapi jadwal tertentu aja.
      kalo yang premium ini ACnya rata semua. beda kayak yang ekonomi biasa πŸ™‚
      ahahaha. lagunya suzy yang mana nih?

  3. Aku belum pernah ngereta ke arah timur. Semoga nanti kesampaian yaaa :))
    Mas, epilognya menawan wkwk. Jadi kaya ikut ngerasa lama meninggalkan jogja kemudian menginjak tanah basahnya kembali :’)
    yok, kapan nyunrise Mangunan :p

    1. Iyaa bener. Tapi kalo yang Argo Parahyangan eko-ac itu nggak reclining seat. Yang ini udah reclining seat. πŸ˜€
      Oiya, Argo Parahyangan di jam tertentu pake satu set rangkaian premium, mas. Mungkin bisa dicoba lain kali. πŸ˜€

  4. wah detail banget ceritanya mas πŸ™‚ . aku booking tiket dari Gubeng ke Jogja akhir Nov pas long weekend dapet seat No.10 C, seat terakhir yg tersedia πŸ™ . Kira2 berlawanan sama arah jalannya kereta ga ya? hehe. Moga2 lagu2 Westlife & Backstreet Boyz besok diputer haha.

  5. Kalo lihat dari foto-fotonya mas Gallant interiornya cakep. Kalo baca dari ceritanya mas Gallant kok sama kaya kereta-kereta yang lain ya…, Kalo aku milih kereta berdasarkan harga sih, bukan nama *dasar gembel nyari murahan πŸ˜›

  6. Semakin penasaran pingin nyobain kereta di Jawa. Pun sebaliknya, ada temenku orang Jawa yang ingin coba kereta Sumatra πŸ˜€
    PT.KAI semakin baik dan terus berbenah. Semoga akan tetap seperti itu ya. Amiiiin.

  7. Naik kereta dan pesan via traveloka “nyong banget” pokoknya transportasi terfav ya kereta api, booking tiketnya suka di traveloka.. Soalnya dapat disc lumayan kan, bisa buat beli pulsa buru2 telpon dia. Hahah

  8. Oh ini kereta Jayakarta ini yang dulunya bernama Gaya Baru Malam ya mas? Dulu masih suka naik kereta Gaya Baru Malam dari Purwokerto menuju Yogyakarta atau sebaliknya. Tiketnya lumayan murah soalnya untung kantong mahasiswa waktu itu, hehe.. Lain kali kalau ke Yogyakarta atau ke Surabaya saya coba naik kereta ini deh πŸ˜€

    1. Tapi perlu diluruskan, Gaya Baru Malam sempat ada dua: Gaya Baru Malam Selatan (yang kereta ekonomi kursi 3-2) yang keretanya udah lamaaaaa banget, dan Gaya Baru Malam Selatan Premium (yang lahir di tahun 2018). Nah Gaya Baru Malam Selatan Premium ini yang kemudian diganti namanya jadi Jayakarta Premium

Komen aja dulu, nanti dikomen balik