Menjemput Fajar Punthuk Setumbu

Mungkin sebaiknya kita memiliki setidaknya satu orang teman yang seperti Mas Adit. Tidak terlalu ribet kalau urusan jalan-jalan. Selama tidak bentrok dengan jadwal, mau ke mana saja dia siap. Tipikal orang yang sudah menyiapkan satu tas berisi pakaian untuk berjaga-jaga. Soal tempat juga tidak terlalu banyak memilih. Meski memiliki target-target kecil seperti ke tempat A, B, C, tapi tidak kemudian memaksakan kehendak. Dan seperti kebanyakan karyawan pada umumnya, dia bertubuh tambun.

******

Parkiran yang Sudah Ramai

Setelah sore sebelumnya, di hari Sabtu, aku dan Mas Adit mengejar matahari terbenam di Parangtritis, pagi ini sekitar pukul tiga lebih, kami berdua sudah melaju di Jalan Magelang-Semarang. Dengan kecepatan cukup tinggi, kami mengendarai motor, mengejar sang fajar di salah satu lokasi yang sudah jamak diketahui, Punthuk Setumbu.

Semua ini bermula dari, “Gallant, besok ke Setumbu ayo.”

Dan aku hanya pasrah, “Ya sudah, ayo.”

Pukul tiga lebih kami melaju dengan kecepatan cukup tinggi. Jalan tampak sudah mulai ramai. Beberapa kendaraan melintas seperti beberapa truk, sepeda motor, dan mobil kecil. Di perempatan dekat alun-alun Sleman, kami dihentikan karena ada rombongan haji. Semoga bapak ibu sekalian dapat kembali pulang dengan selamat dan menjadi haji mabrur.

Harga Tiket Masuk

Kami kembali menurunkan kecepatan ketika sampai di Pasar Muntilan. Pasar Muntilan yang belum jadi tampak sudah aktif memutar roda ekonomi. Lapak-lapak di gelar. Penjual dan pembeli berinteraksi di pagi buta.

Punthuk Setumbu bukanlah lokasi yang asing di telinga. Keelokannya saat matahari terbit sedikit demi sedikit, mengusir kabut-kabut yang menyelimuti Candi Borobudur sudah terkenal sejak lama. Dari Punthuk Setumbu, Candi Borobodur yang megah dan besar itu terlihat kecil. Saat kabut menyelimutinya dan perlahan dihapuskan oleh hangatnya cahaya matahari menjadikan Borobudur semakin terasa magisnya.

Antrean Membeli Tiket

Ketenarannya sudah lama digaungkan konon kabarnya semakin meningkat ketika film Ada Apa Dengan Cinta kedua diputar. Punthuk Setumbu menjadi salah satu lokasi tempat Rangga dan Cinta menantikan matahari ke luar dari sarangnya. Sekarang, Punthuk Setumbu juga sudah ditingkatkan kualitas jalannya dari yang semula tanah menjadi beton dan berbentuk tangga.

Jalan Borobudur juga mulai ramai didominasi oleh kendaraan kecil seperti mobil dan sepeda motor. Menurut dugaan, tujuan mereka adalah Hotel Manohara lalu kemudian menikmati matahari terbit dari Candi Borobudur. Untuk menikmati matahari terbit dari Candi Borobudur, seperti Mark Zuckerberg lakukan beberapa waktu lalu, memang hanya dapat diakses melalui Hotel Manohara. Atau sama seperti kami, menuju Punthuk Setumbu.

Dari Borobudur kami memasuki jalan di desa yang cukup gelap. Hanya terdengar suara lantunan ayat suci Alquran dari pengeras masjid sebagai penanda sebentar lagi akan masuk waktu salat subuh. Kami berpacu dengan waktu agar bisa tiba di Setumbu saat azan subuh.

Penunjuk jalan juga sudah sangat jelas. Meski masih secara manual dibuat oleh warga dan dalam keadaan gelap. Tapi kami tidak kesulitan. Apalagi di akhir pekan seperti ini banyak kendaraan yang menuju ke sana. Banyak teman yang searah. Tak perlu khawatir tersesat.

Sebuah plang terakhir menunjuk ke atas. Dalam suasana remang cahaya lampu rumah, terlihat sebuah tanjakan yang cukup tinggi. Mas Adit segera mengurangi gigi motor dan menarik gas dalam-dalam. Sementara aku berpegangan di bagian belakang jok agar tidak jatuh.

Di tempat parkir sudah berjajar motor-motor dan mobil-mobil. Rupanya sudah banyak yang sampai bahkan sebelum kami tiba. Azan Subuh berkumandang tepat saat kami menata motor. Air yang dingin untuk berwudu membuatku menggigil saat menunaikan salat.

Mas Adit sudah membayar tiket masuk. Satu orang dikenai harga Rp15.000,00 untuk wisatawan domestik. Kami segera memulai langkah untuk menaiki tangga buatan dari cor bersama dengan pengunjung lain. Beberapa aku menyadari mereka bukan berasal dari Jawa Tengah atau Yogyakarta dari logat dan penyebutan “gue”.

Setelah lima menit melangkah, kami telah sampai di puncak bukit. Sayangnya meski langit masih sangat gelap, orang sudah menyemut. Orang-orang sudah duduk-duduk di pelataran yang dilapisi kayu. Dalam gelap, aku juga dapat melihat beberapa titik-titik untuk berswafoto: lambang berbentuk hati dengan bangku panjang atau lantai berbentuk hati terbuat dari kayu yang menjorok. Di bagian atraksi utama, tempat untuk melihat munculnya matahari terbit, sudah terpasang bingkai instagram buatan. Aku kemudian membayangkan, dulu sebelum wisata ini terkenal, masih sepi dan tanpa ada gangguan seperti itu.

Pemburu Fajar

Pengunjung sudah mulai gelisah saat tak ada tanda-tanda matahari mulai muncul. Mendung memang. Manusia memang tak bisa membuat alam sebagaimana rencana. Alam sudah memiliki cara sendiri, manusialah yang harus menyesuaikan. Pukul enam kurang, langit sudah cerah, tanpa ada tanda-tanda matahari terbit. Dari kejauhan hanya dapat melihat gereja ayam dan Candi Borobudur yang diselimuti kabut. Lebih jauh lagi ada dua gunung. Semuanya tampak kecil. Pengunjung masih saja duduk-duduk.

Tampaknya matahari sudah cukup menggoda kami. Ia perlahan memperlihatkan wujudnya. Perlahan demi perlahan, muncul dari celah di antara dua gunung. Persis seperti gambar anak sekolah dasar. Sayangnya tirai kabut dan awan mendung tak mau bekerja sama. Ketiganya, matahari, kabut, dan awan mendung semuanya tak ada yang mau mengalah. Semuanya muncul bersamaan. Warna jingga yang diharapkan muncul dari cahaya matahari harus tertutupi oleh warna putih awan dan kabut.

Mentari yang Masih Sembunyi
Mentari masih Ditutup Awan
Mentaripun Muncul di Antara Dua Gunung

Pengunjung langsung berdiri serentak sambil menunjuk-nunjuk saat matahari perlahan muncul. Mereka langsung bergerak maju hingga di tepi pagar. Seakan baru kali ini mereka melihat proses terbitnya matahari. Mungkin karena keseharian mereka tak pernah melihat hal seperti ini, maka saat-saat matahari terbit menjadi mahal harganya, meski fenomena tersebut hanya berlangsung beberapa menit saja. Hampir semua mengeluarkan kamera atau telepon seluler untuk mengabadikan pemandangan yang tidak setiap hari mereka nikmati ini.

Ya, kadang memang ada hal-hal sederhana yang patut disyukuri. Karena sederhana bagi seseorang, bisa jadi suatu hal yang luar biasa bagi orang lain.

Gallant Tsany Abdillah

Suka jalan-jalan dan menggalau tentang apapun. Pengen punya kamera (dan pacar) sendiri. Kerjasama dapat menghubungi ke alamat email: gallanttsany@gmail.com

34 thoughts to “Menjemput Fajar Punthuk Setumbu”

  1. Aku ke Punthuk Setumbu sejak dia masih kosong melompong sampai sudah banyak bangunan dan jalannya bagus, dan belum pernah dapat sunrise sekalipun. KZL. Selalu tertutup kabut. Betewe aku mencari-cari foto Borobudur dalam lautan kabut kok nggak ditampilin, Gal? Hehehe.

  2. Woiya pakai tele mas sip Borobudure samar-samar gituu. Eh padahal aku belum pernah ke Punthuk Setumbu ahaha. Pernah e ke Gereja Ayam, Mongkrong, Pos Mati sama apalagi gitu namanya. Dan zonk semuaa…

    Suka mBandingin gitu: “aa masih bagus nyunrise Mangunan, Panguk, dkk” trs dijawab sama Mas Mawi: “woo susah move on” wkwk.

    Ga boleh juga ya dibanding-bandingin. Aku cuma auto mbatin terus keceplosan, mungkin kzl karena jauuh tapi zonk.

    1. Hahaha itu juga yang sekarang sedang aku kurangi mbak: membandingkan satu tempat dengan tempat lain. Semua ada keindahannya pasti. 😀

      Tapi kalau disuruh menilai sih memang aku juga lebih suka ke Mangunan dan sekitarnya sih, soalnya awan-awan menggantungnya itu lho :”3

      Weh kan dari Gereja Ayam itu bisa keliatan borobudur juga to? Dari Setumbu bisa ngeliat gereja ayamnya wkwkw

  3. pengen kesini tapi tiap kali bayangin banyaknya orang yang kesini ya kok jadi malas ya?!
    hehehehe. saya suka menikmati alam dengan santai dan ditempat yang lebih sepi euy.

  4. Aku pernah ke sini jauh sebelum hits AADC 2, sampe parkiran cerah banget banyak bintang keliatan. Batinku wah dapet sunrise nih. Eh begitu subuh malah hujan deres :)))

    Dan sumpah itu treknya kalo ujan tanahnya pada nempel semua di sandal 🙁 kalo sekarang treknya udh bagus ya?

  5. AADC 2 ini membikin banyak hal yang dulu tidak saya ketahui menjadi tahu, kemudian dipos di blog teman-teman, ada kafe ada juga Punthuk Setumbu ini. Awesome sekali ya saat matahari terbit itu, luar biasa lukisan alam dari Sang Pencipta. Bahagia itu sederhana. Ya, benar. 🙂

      1. Maksudnya, dari pos teman-teman, dari filem AADC ada pula kafe yang kemudian jadi banyak diulas gara-gara filem itu 😀 juga Punthuk Setumbu ini 😀 Duh saya nulisnya bikin bingung ya 😀

  6. Punthuk Setumbu sekarang lebih baik secara tatanan infrastruktur, berbeda dengan terakhir ke sini sekitar 2 tahun lalu. Nggak bosan memang ke Setumbu walau nggak dapat sajian alam saat matahari terbit yang WOW 🙂

    Btw, saya juga barusan upload tulisan Punthuk Setumbu, kok bisa samaan ya … Hahahaha

  7. Punthuk setumbu jadi spot legendaris untuk melihat sunrise ya. Kalau akhir pekan ramai banget. Meski udah banyak yg datang dan mengabadikan foto dari sudut pandang Setumbu, Setumbu ya tetap terus ramai ya,, Walau kadang bikin kecewa karna kabut, tetapi Setumbu selalu punya daya magis untuk dikunjungi.. 😀

  8. sebelum terkenal di AADC 2, aku sudah. Hanya ada belasan orang dan jalanan masih tanah dan pernah terpeleset. Sebelum ada simbol2 yang kadang jadi polusi visual..hahahha

    Pas kesana berkabut, matahari tak tampak.
    Kok gada foto simbol2nya mas…? 😀

Komen aja dulu, nanti dikomen balik