Menyiksa Lidah di Ayam Geprek Bu Rum

Yogyakarta sedang dilanda kegalauan. Hujan turun sejak sore, di penghujung bulan April. Saat-saat yang kurang lazim untuk turun hujan. Hujan pun turun tak serta merta langsung mencecar bumi. Hanya rintik-rintik yang cepat berlalu. Dan menikmati ayam geprek, tentu cara yang tepat menikmatinya.

Hujan sebentar datang, lalu hilang, begitu berulang hingga magrib tiba. Aku tak perlu menyamakan itu dengan gebetan-gebetanmu yang hanya datang menyapa di saat dia butuh. Meski begitu kehadirannya (baca: hujan) tetap mampu membasahi sepanjang jalanan Yogyakarta. Pun gebetanmu bukan?

Ayam Geprek Bu Rum

Aku melaju melintasi jalanan Yogyakarta yang basah oleh hujan sejak sore itu. Iya hujan yang sebentar datang lalu menghilang dan begitu berulang beberapa kali. Di beberapa perlintasan pun muncul genangan air meski tak tinggi.

Tujuanku kali ini adalah Jalan. Wulung Lor, Papringan, yang cukup remang dengan lalu lintas kendaraan yang jarang. Di Jalan Wulung Lor ini, terdapat sebuah warung makan yang menjual makanan menyiksa lidah, Ayam Geprek.

Sejak sebelum ayam geprek rasa-rasa itu beredar sekarang, Bu Rum, begitu nama pemilik warung makan ini sudah menjual ayam geprek yang rasanya orisinal. Layaknya perawan desa yang polos, tanpa racun-racun hingar bingar kota.

Baca juga: Ngabuburit Gudeg Yu Sum

Entah sudah kali ke berapa aku ke sini. Bosan tak pernah ada dalam kamus. Hanya sesekali terlupa, atau sengaja menjaga jarak agar tercipta rindu yang cukup. Karena terlalu sering bertemu justru menjadi bosan, bukan? Jaraklah yang membuat rindu terasa manis. Pun dengan ayam geprek. Terlalu sering makan ayam geprek bukan rindu yang akan kita jumpa, tapi bosan dan matinya lidah. Mungkin kita justru akan sering bersua dengan kamar mandi nantinya.

“Cabai berapa, Mas?” Begitu tanya seorang mas penjual. Tepat sesaat setelah aku mengambil beberapa centong nasi, tahu, dan ayam crispy.

“Tujuh, Mas.” Sahutku mantap.

Bisa dibilang aku nekat mengucapkan itu. Karena biasanya aku harus membiasakan diri dengan porsi cabai yang sedikit demi sedikit. Dimulai dari tiga, lalu naik menjadi lima, kemudian tujuh adalah titik maksimal. Aku pernah mencoba dengan sepuluh cabai, oh tapi cukup sekali itu saja. Yang kurasakan tak lagi sensasi ayam goreng tetap hanya rasa sakit di lidah.

Mas tersebut kemudian mengambil tujuh butir cabai rawit, sejumput garam, dan sepotong bawang putih. Setidaknya itu yang aku tahu, entah jika kemudian dia menambahkan sumpah serapah atau menunjukkan foto mantan sehingga rasanya menjadi lebih pedas. Aku masih sibuk mencoba menggunakan kamera telepon selularku untuk memotret.

Mas tersebut mengambil ayam yang ada di piringku, menaruhnya di atas cobek besar yang sebelumnya telah berisikan ramuan-ramuan yang kutulis sebelumnya. Dia kemudian mengaduk, mencampurkan ayam tersebut hingga seluruh bagiannya terbalut ramuan. Dia mengembalikan ayam ke dalam piringku. Aku mengambilnya, memesan satu gelas es jeruk, lalu kemudian memilih tempat duduk.

Baca juga: #RabuSoto Soto Batok

Saliva dalam mulut seakan keluar terus menerus. Membasahi lidah. Memberikan perisai agar lidah siap menyantap hidangan yang ada di depanku. Aku mengambil sendok pertama. Enak. Aku mengambil sendok kedua, ketiga, keempat. Rasa enak saat sendok pertama berubah menjadi rasa sakit. Rasa sakit di lidah. Lidah terasa terbakar. Rasa sakit menjalar menuju otak. Aku menenggak es jeruk. Sial. Bukannya hilang, rasa sakit itu semakin ada. Aku memesan lagi satu gelas air putih dengan es.

Seperti yang kita ketahui bersama, pedas bukanlah sebuah rasa. Hanya sensasi semata. Lidah kita hanya bisa merasakan empat jenis rasa: manis, asam, asin, pahit. Pedas adalah sebuah sensasi terbakar pada lidah yang sayangnya menjadi candu bagi sebagian orang. Karena ketika lidah kita terbakar oleh Kapsaisin, otak melepaskan hormon endorfin. Hormon endorfin memiliki efek mengurangi rasa sakit, memberi perasaan yang tenang, senang, dan bahagia. Persis saat kita mengonsumsi opium dan sejenisnya.

Kapsaisin adalah zat yang terkandung pada biji cabai. Dari sinilah sumber sensasi terbakar atau yang bisa disebut dengan pedas itu bermula.

Sementara dari anime Shokugeki No Soma yang sedang aku ikuti jalan ceritanya menceritakan bahwa masakan pedas juga digunakan dalam pengobatan tradisional. Mungkin akan lebih tepat jika bahan-bahan makanan pedas seperti cabai atau merica adalah salah satu bahan yang juga digunakan dalam pengobatan tradisional.

Aku masih harus menahan rasa sakit di lidah yang “terbakar”. Sakit yang benar-benar nikmat. Entah bagaimana menggambarkanya, yang jelas rasa sakit ini benar-benar nikmat. Bukan berarti aku seorang masokis karena menikmati rasa sakit. Tapi. Ah..

Mungkin mas yang membuat masakan tadi tersenyum senang melihat ekspresi kesakitan berpadu kenikmatan yang dipancarkan oleh setiap yang memakan ayam geprek. Seakan dia berhasil menyiksa semua yang datang dengan rasa pedasnya, tapi tetap membuat mereka merasakan kenikmatan dari siksaannya. Sungguh kejam.

*****

Ayam Geprek Bu Rum

Alamat: Jalan Wulung Lor, Papringan, Depok, Sleman, Yogyakarta

Menu andalan: Ayam geprek orisinal

Harga: Nasi+Ayam geprek Rp11.000 (belum termasuk minum dan tambahan lain seperti tahu, tempe, atau telur)

*****

Referensi:

1. https://lifestyle.kompas.com/read/2011/06/30/15411978/9.Manfaat.Sehat.Makanan.Pedas

2. http://www.indramuhtadi.com/blog-articles-2014/topik-ke-156-endorphin-hormon-bahagia

3. https://id.wikipedia.org/wiki/Kapsaisin

 


117 thoughts on “Menyiksa Lidah di Ayam Geprek Bu Rum

  1. Aku pernah mau ke sini, eh ketemunya di warung geprek sebelah Bu Rum persis. Pas lihat papan, “oh ini bukan Bu Rum ya? Yaahhh terlanjur”.
    Tapi di sana dikasih kuah gulai mas, di piring terpisah gitu. Di Bu Rum ada nggak?

    Biasanya aku cuma berani pesen lombok satuu :p

  2. Kalau makan ayam geprek dengan cabai 3 – 5 – 7 ataupun 10 sudah terlalu biasa, coba besok – besok dateng lagi, tapi pesen ayam geprek tanpa cabai. *Hla pietokik? Kui jeneng e mah fredciqen?!* Hahaha…

    Jaman kuliah dulu, saya juga lumayan seneng sama geprek. Tapi makin kesini bosen juga. Dan akhirnya, frekuensi saya untuk mengonsumsi ayam geprek 2 bulan terakhir ini, sepertinya masih stuck di angka “satu”.

  3. Hahaha, ngakak baca part gebetan.. Tulisanmu enak banget dibaca sungguh, seolah2 aku ikutan ngrasain ayam geprek dg cabai 7.. Hhh
    Pdhl aku kl pesen ayam geprek cuma berani pakai satu cabai. Itupun harus dicampur kecap setelah ayamnya digeprek. πŸ˜‚

  4. wah, parah bikin mau nyoba mas haha
    saya berencana balik lagi ke kota ini, kota yang punya sejuta cara untuk memanggil orang2 yg pernah ke sana

    pokoknya mah, kudu pake banget nih buat nyoba ayam geprek bu rum πŸ˜€
    makasih udah sharing mas

  5. Hujan-hujan makan ayam geprek yang pedas emang juaranya ya Mas. Apa lagi kalau bumbunya enak. Biar mulut sakit dijabanin aja dah πŸ™‚

  6. Aku aslinya suka makanan pedas, tapiii… lambungku sudah tak kuat sejak terakhir kena gejala tifus.. sehingga mau tak mau kini harus menahan diri untuk mengkonsumsi pedas..

    Tapi kebayang sih ayam geprek Bu Rum ini pasti istimevva!

  7. Kalo ngajak gebetan berduaan kesini milih pedesnya level tertinggi … enak sih pasti enak ya.
    Tapi ntar pasti pada sibuk gantian mondar-mandir ke ‘bilik termenung’ πŸ˜…

  8. Tingkat kepedesan setiap orang memang berbeda ya, Mas. Aku sendiri sedikit aja udah pedes. Keluarga teman saya kalau udah ngomongin pedas, gila lah. Udah bukan bijian cabe lagi, Mas. Tapi mainnya ons-onsan, sekali beli satu atau dua ons langsung dibikin, uedan memang. Kadang ya mikir kok kuat ya perutnya..hehe

    Selama di Jogja juga aku sering banget makan ayam geprek, selain ayam geprek bu Rum memang banyak juga pilihan lainnya ya, Mas.

  9. Ku suka ayam geprek, baik ayam goreng biasa maupun ayam tepung. Tapi cabenya satu aja, maksimal 2 lah, biar masih terasa enaknya. Kalau sudah kepedesan mah cuma huhah huhah aja

  10. Waaaah….ini harus dicoba nih, tapi dengan 3 cabe dulu heheee….nggak berani banyak2, takutnya malah menyebabkan sakit perut heheee….

    Pesen susu hangat mas, biar pedesnya ilang. Kalo minum es sih, sepertinya nambah pedes heheee

  11. Belum pernaaaah. Waktu itu ke Jogja pernah dikerjain temen disuruh makan mercon-mercon gitu. Eh modyar langsung perut gak karuan. ahahaha. Anyway, salam kenal ya. Kayaknya baru pertama kali main ke sini deh. \(w)/

  12. Duh kayaknya enak banget deh.
    Selalu tergoda dengan ayam geprek.
    Soalnya suka banget sama yang pedes2.
    Bisa bikin efek nambah berkali2, wkwkwkw πŸ˜€

  13. Aku tuh kadang bingung sama ayam geprek, adakah standarisasi rasa pedas, kadang level pedasnya itu gak sama antara satu tempat sama tempat lainnya. Bahkan kadang satu warungpun tergantung kualitas cabenya, kalau lagi apes ya pedesnya sampai bikin nambah es teh…ahaha

    btw, besok aku sahurnya pakai ayam geprek lho, belum berani pakai mi samyang…ahhaa

  14. Ini kayaknya si Bu Rum njeneng banget ya πŸ˜€ Saya belum pernah nyicipin ayam geprekannya Bu Rum asem. Mentok di Dirty sama apa itu, namanya… eskom πŸ˜€ wkwkw harus mencoba deh ah πŸ˜€

  15. Aku doyan pedes, tapi bukan masakan yang pedes banget. Kalau makan ayam geprek yaa paling level 5 udah cukup. Kalau sudah sangat pedes kurang bisa menikmati makanannya. Lidah jadi panas, wkwkwwkwkwk

  16. Suka makanan pedas, tapi bukan yang pedas sekali. Karena selalu ga bisa menikmati kalau sudah pedas sekali. Kalau ayam geprek biasanya level 5 saja udah cukup. πŸ˜€

Komen aja dulu, nanti dikomen balik