Rencana Liburan Ke Dieng

Tidak ada yang lebih menyenangkan selain berlibur bersama kawan. Sahabat dekat yang berpisah ratusan kilometer. Sahabat dekat yang dulunya menjadi tempat bercanda, berkeluh kesah, tempat mencontek berdiskusi soal materi kuliah, bahkan menggalau mengapa energi yang dikembangkan di dunia ini adalah listrik dan bukan magnet. Namun seiring berjalannya waktu, kami harus berpisah, dipisahkan oleh jarak ratusan kilometer. Tentu untuk menjalani kehidupan masing-masing. Meski begitu, silaturahim melalui pesan-pesan di aplikasiย chatting masih berjalan, saling berbagi kabar, agar tak merasa kehilangan.

Kehidupan tentu terus berjalan, kesibukan selalu datang bertubi-tubi tanpa henti. Meski begitu sesekali dia datang ke Yogyakarta untuk satu atau dua agenda saja. Waktu yang terbatas, cerita-cerita kehidupan belum tuntas untuk dikupas.

(1) Havid dan Chika-san saat Summer School

Dalam sebuah percakapan melalui pesan-pesan di Whatsapp, kami memulai pembicaraan mengenai liburan. Menyingkir sejenak dari keributan pekerjaan, menenangkan pikiran mutlak kami perlukan mengingat tingkat kesibukan kami sama-sama cukup tinggi. Bukan sebuah rencana baru, karena sejak lama kami berencana untuk berlibur bersama. Bahkan dulu tak hanya merencanakan ini berdua, melainkan dengan tiga teman kami yang lain, kami sudah menyiapkan rencana jauh-jauh hari. Mulai dari berkemah di Rancaupas dan lainnya. Persiapan kami bahkan sudah sangat matang, tapi apalah tak kunjung terlaksana. Kami terlalu lama berwacana hingga akhirnya salah seorang teman (berjenis kelamin perempuan) kami menikah. Itu artinya kami, berlima saat itu, tidak bisa lagi merencanakan bepergian bersama. Karena hal itu, kali ini aku dan Havid memilih merencanakan pergi berdua. Agar tidak sebatas wacana.

Aku yang dianggap lebih berpengalaman soal ini tentu lebih banyak berperan memberikan ide dan saran. Sementara dia hanya memberikan komentar dan pertimbangan.

Kami berdua pernah mengikuti acara bertajuk Summer School. Salah satu agenda waktu itu adalah berkunjung ke PT. Geodipa Energy yang ada di Dieng. Jadwal kami yang super padat waktu itu tak memberikan kami kesempatan untuk menikmati suasana dingin Dieng. Bahkan kami, saat itu, menginap di Wonosobo. Mau bagaimana lagi, peserta mengikuti apa yang panitia sudah siapkan.

(2) Telaga Warna, Dieng (via Traveloka)

Cerita soal Candi Arjuna, Dieng Culture Festival, Kawah Sikidang, bahkan makanan seperti Carica dan kentang yang banyak tumbuh di Dieng tampaknya membuat dia tertarik. Belum lagi magisnya matahari terbit yang dilihat dari Prau atau Sikunir.

Kami berdua adalah tipe manusia ambivert dan introvert yang tidak terlalu menyukai keramaian. Pun begitu saat traveling, kami lebih memilih untuk bepergian dengan teman yang sudah kami kenal dekat. Hal itu menjadi dasar bagi kami untuk tidak menuju Dieng saat acara Dieng Culture Festival. Bahkan sensasi menikmati matahari terbit dari Prau atau Sikunir pun kami coret. Kami lebih memilih untuk menuju Dieng pada tanggal 24 Agustus 2018 nanti dengan pertimbangan saat pascaIdul Adha itu orang lebih memilih untuk membakar sate atau mudik, sementara kami akan menikmati liburan.

(3) Kompleks Percandian Dieng (via Traveloka)

Tanggal sudah ditentukan, sekarang adalah memikirkan bagaimana cara menuju dan tinggal selama di sana. Rencananya, dia akan naik pesawat menuju Yogyakarta, menginap semalam di Yogyakarta baru keesokan harinya menuju Dieng. Tentu saja mengalah karena aku masih harus masuk di hari Sabtu. Untuk urusan yang ini, aku menyerahkan penuh kepadanya. Namun sebagai teman yang baik, tentu tak meninggalkan dengan kosong. Aku memberikan pilihan beberapa aplikasi pemesanan tiket pesawat. Sementara penginapan akan kami cari terpisah secara manual seperti yang aku ketahui sampai saat ini.

Beberapa waktu berikutnya, aku bertanya kepadanya perihal tiket. Secara mengejutkan dia berkata, “Aku wes oleh tiket pesawat. Sisan sak hotelรฉ.” (Aku sudah dapat tiket pesawat. Sekalian dengan hotelnya.)

Aku tuku lewat Traveloka. Enak. Iso pesen pesawat karo hotel sisan. Hahaha.” (Aku beli lewat Traveloka. Enak. Bisa pesan pesawat dan hotel sekalian). Imbuhnya karena dia yakin aku pasti bertanya-tanya.

Havid mulai memamerkan hasil berburunya di Traveloka. Aku memerhatikan dengan cermat. Dari penuturannya fitur paket pesawat hotel Traveloka ini memang sangat membantu, ditambah dengan adanya promo sebesar 20%. Nanti lebihnya buat makan tempe kemul, katanya. Mantap memang kawan satu ini.

Opsi Pembayaran, lewat Indomaret

“Wah, nek ngono awakdewe kudu matur nuwun karo Traveloka iki. Pembayaranรฉ iso lewat Indomaret karo Alfamart pisan.” (Wah, kalau begitu kita harus berterima kasih kepada Traveloka ini. Pembayarannya juga bisa lewat Indomaret dan Alfamart pula.) Kataku.

“Iyo. Asal ojo wacana maneh ae.” (Iya. Asal jangan wacana lagi saja.) Tutup Havid. Aku hanya bisa tertawa terbahak-bahak.

Sekarang, tinggal menunggu waktunya saja. Semoga kali ini benar bukan wacana. Kalian ingin ikut? Langsung pesan, tidak usah banyak teori. Kami tunggu di Dieng!


61 thoughts on “Rencana Liburan Ke Dieng

  1. Ahahhaha diskon 20%nya bisa buat beli tempe kemul cobaaa ๐Ÿ˜‚
    Semoga nggak sebatas wacana lagi, keburu ditinggal nikah mas Havid.

    Hunting tempat2 sepii dong mas, ku juga ga suka yang ramai-ramai. Terus ntar ditulis di Galautraveler ๐Ÿ˜Š

  2. wuahwuaaah. tahun lalu kitake dieng. Abis lebaran lalu bukannya ke dieng juga ya? sekarang udah berwacana ke dieng lagi. Kayaknya dieng punya tempat tersendiri di hati mas gallant hehehe

  3. haha..belajar dari pengalaman, terkadang yang terencana dengan baik realisasinya kurang baik…tapi tanpa rencana juga menjadikan perjalanan kurang baik pula…hehe
    .
    salam kenal mas Gallant ๐Ÿ™‚

  4. Kalo pesen hotel plus tiket pesawat di traveloka emang kadang lebih murah daripada beli ketengan. Gue juga kadang begitu pesennya. Hehe.. Wah gue blom pernah ke dieng,belum ada kesempatan. ๐Ÿ™

  5. Tahun 2015 aku nanjak ke Prau. Tadinya mau sekalian eksplor Dieng, tapi nggak sempet karena molor hahaha.

    Aku suka suasana ramai, suka kenalan dengan orang baru dan nggak masalah traveling bareng (atau tidur bareng, eh) sama mereka, tapi aku nggak suka kebisingan. Aku suka duduk mengamati orang2 di sudut persimpangan yang ramai, tapi nggak suka nonton konser musik. Kira-kira introvert apa ekstrovert tuh? Haha.

      1. Hehe bkn kering maksudnya itu klo pas ke dieng hihi.

        Kemarin emang dinging bgt mas. Skitar dua minggu lalu saya pulang dr Semarang ke Purwokerto lewat Wonosobo rasanya mak nyossss

  6. Dieng, aku pernah ke sana tahun 2016 lalu buat nonton DCF.
    tahun lalu mau balik dan rencana ke Prau tapi rencananya kandas ditengah jalan.
    apa balik lagi nih ya Agustus besok sekalian nonton DFC 2018? ๐Ÿ˜€

  7. semoga rencananya lancar jaya mas dan dieng pas lagi indah2nya

    soalnya pernah berencana gitu juga, ke bromo. pas sampe, eh lagi mendung2nya
    ๐Ÿ™

  8. Aku juga suka suasana dieng dan prau mas. Tapi yaa itu, setiap weekend dieng (*khususnya prau) selalu penuh sesak. Pilihan ke dieng memang lebih tepat ketika weekday. Lebih sepi dan dingin. Sedingin sikapnya –“

  9. saya satu kali ke dieng, waktu itu dalam status waspada 1, hahaha alhasil, dieng terasa punya sendiri. nggak ada wisatawan. haya aku sama teman, dan 2 WNA yang nggak ikutan takut, heheheh

  10. Kalau lihat postingan wisata dieng dan foto foto disana jadi pengen kebali travel lagi. sangat nyaman banget wisata alam ke dieng, apalagi kalau udah punya istri kan enak wisata bareng keluarga.

Komen aja dulu, nanti dikomen balik