Swastamita Candi Ijo yang Tak Berubah

Sesaat aku mengunjungi Candi Ijo beberapa minggu yang lalu, tampak sekali perubahan.

Sepenggal kalimat yang aku tulis untuk memulai cerita pada akun instagramku, saat aku mengunggah foto tentang Candi Ijo. Nyatanya memang, dari sejak kali terakhir aku berkunjung ke sana tampak beberapa perubahan pada Candi Ijo. Meski perubahan itu sendiri nyatanya tak mengubah warna-warna sore yang jingga dan menentramkan hati.

******

Candi Ijo Ramai

Selepas menyelesaikan segala urusan remeh-temeh di kantor, aku langsung menuju lokasi yang sudah dijanjikan sebelumnya dengan Mbak Aqied. Urusannya tentu saja meminjam kamera. Perjalanan aku lanjutkan menuju ke Candi Ijo.

Barangkali perubahan pertama terlihat pada ramainya kendaraan yang lalu-lalang di jalan menuju candi. Tentu pengaruh adanya Tebing Breksi menjadi salah satu faktor pendukung meningkatnya intensitas kendaraan. Tak hanya kendaraan kecil tapi juga bus-bus berukuran besar. Di ujung jalan, di pertigaan dari Jalan Piyungan, aku melihat ada kantung parkir yang siap menampung mereka yang tidak kebagian tempat parkir.

Bus-bus dan mobil-mobil silih berganti berpapasan, bergantian melintasi jalan yang sempit ini.

Baca juga : Info Perbedaan Kereta di Indonesia

Melewati Tebing Breksi, perubahan kedua terlihat dari jalan yang sudah dicor rapi. Jalanan menanjak ini dulu sering membuat mesin motor harus bekerja keras. Keterampilan pengendara juga dituntut lebih karena jalanan menanjak, berliku, dan banyaknya lubang di sana-sini. Sekarang motor yang kukendaraipun melaju mulus tanpa perlu turun hingga gigi satu.

Menanti Senja
Menanti Senja di Candi Ijo

Selepas menitipkan motor di tempat parkir, aku lantas menuju loket. Dulu, pengunjung tak perlu membayar uang sepeserpun. Cukup menuliskan nama dan membubuhkan tanda tangan sebagai bukti. Sering juga pada kolom nama ditulis dengan nama kelompok. Misal, kelompok Travel Blogger Jogja. Sekarang setiap kepala harus membayar uang lima ribu rupiah, tanpa menuliskan nama, tapi mendapatkan sebuah karcis sebagai bukti. Yang perlu diingat, jangan pernah mau membayar bila tidak diberi karcis.

Beramai Mengabadikan Senja
Duduk Bersama Menikmati Senja

Meski ada perubahan, nyatanya Candi Ijo masih tetap berdiri gagah. Candi utama diiringi tiga candi pendamping yang semuanya berada di sisi barat dan bercorak Hindu, terlihat dari bentuk candinya yang tidak lebar seperti Borobudur. Menurut Wikipedia, diberilah nama Candi Ijo karena dia berdiri gagah di Bukit Ijo. Ijo, dalam Bahasa Jawa berarti hijau. Di dalam candi terdapat simbol Lingga dan Yoni yang berarti daerah sekitar candi merupakan daerah yang subur. Tak jauh dari Candi Ijo juga terdapat semacam artefak yang membuktikan adanya sumber air. Sayangnya, lokasi ini masih sangat jauh terpencil. Bukan perkara mudah untuk menuju ke artefak yang dimaksud. Aku pernah diajak oleh beberapa kawan dari Traveller Kaskus untuk melihat bukti peninggalan tersebut.

Senja

Baca juga : Senja Pertama 2015 dari Candi Abang

******

Candi Ijo, nyatanya masyhur sebagai tempat untuk menantikan senja dari atas bukit. Orang datang untuk bersantai, duduk bersama rekan sejawat, bercanda dengan cukup, melepas penat. Beberapa orang berpencar untuk mengambil gambar. Beberapa yang lain menikmati dengan sebatas duduk bersama pasangan, bercerita tentang hari-hari yang telah dilalui atau membicarakan perihal masa depan.

Orang lebih senang menikmati bagaimana matahari perlahan turun, berpindah menuju dunia lain yang menjadi urutan untuk disinarinya. Matahari tak pernah lelah untuk menyinari segala yang ada dalam tata suryanya. Tak pernah dibayangkan bahwa ia semakin renta. Yang perlu kita ingat, matahari juga makhluk yang suatu saat nanti akan padam, sama seperti manusia.

Candi Ijo mungkin dibangun sebagai penanda sejarah, tapi siapa sangka ia juga memberikan manfaat lain sebagai tempat manusia untuk meredam segala amarahnya dengan swastamitanya. Lokasinya sangat strategis, menjorok, terbuka ke arah barat menjadikannya sempurna sebagai tempat untuk menentramkan diri sembari menikmati swastamita.

******

Ya, meskipun ada banyak perubahan di sana-sini. Nyatanya ia tak bisa mengubah bagaimana swastamita dan kehangatan sore di Candi Ijo. Meskipun waktu terus silih berganti, perasaankupun tetap sama. Karena tak semua hal bisa diubah.

 


49 thoughts on “Swastamita Candi Ijo yang Tak Berubah

  1. Terniat juga ya ke Candi Ijo sepulang dari kantor :’)
    Jaraknya padahal nggak ada searah-arahnya.

    Iyaa… Jalan menuju Candi Ijo sudah mulus sampai tembus Gunungkidul. Nggak heran juga kalau wisatawan semakin semangat pergi ke sana. Hmm sayangnya sampai saat ini, belum pernah nyunset ke candi.

    Mas, bukannya candi itu tutup jam 5nan? Kok masih bisa motret ya?

    1. Ahaha. Sebenernya ya nggak langsung dari kantor si. Pulang dulu hehe.

      Oh iya po? Jadi kalau dari Candi Ijo lurus terus itu tembus gunung kidul? baru tau haha.

      Tutup loketnya jam 5. Tapi sampai jam 6 gitu masih baru diusir-usir.

  2. Kalau jalan, perubahan ke arah yang lebih baik ya. Semoga makin banyak wisatawan yang datang ke sana untuk mengggumi sejarah bangsa. Kalau perubahan dengan membayar tiket masuk, semoga dimanfaatkan untuk merawat tempat candi dan lingkungannya

  3. Kerja di Wates, to, mas? Pas gabut ini biasanya kalau tercetus ide yang aneh-aneh kayak gini.
    Seumur-umur belum pernah ke Candi Ijo. Kadang ada niatan mampir kalau pas pulang dari Solo ke Purworejo. Tapi sering nggak jadi, karena alesan “wis kesel nang ndalan”. *Halah*

    Aku googling arti dari “swastamita” : oh artine kui to…Hahaha

  4. Itu foto terakhir bikin baper hahaha. Btw, betullah memang, sunset itu indah dimanapun ya, nggak harus di pantai. Cuma mikirnya aku pas liat foto-foto ini adalah settinga kameranya haha. Aku suka gagal dapetin foto sunrise/sunset.

    1. Haha. Emang sih. Sengaja ditaruh di akhir :p
      Kalau aku mikirnya, sebenarnya kita-kita ini nggak butuh sesuatu yang muluk-muluk, sesederhana bisa lihat sunset itu aja udah tenang kok. Ya nggak sih?
      Haha kalau soal settingan kamera, itu standar aja, setelah itu editing di softwarenya sih biar makin mantep. Cuma ya dasar pemandangan aslinya sudah bagus 😀

      1. Iya betul. Kadang di depan rumah juga pas nemu matahari yang bagus banget udah bersyukur haha. Kadang karena dilihat setiap hari jadi ngerasa kurang ngeh.

  5. Aku baru tau ada candi namanya candi ijo :'( Ah cupu, taunya prambanan, mendut, borobudur. ilmuku cetek. Ini sih harus nih, kalo liburan ke candi2 lagi, yg ini harus diikutsertakan. Aku pengen bgt nih jalan2 begini… trus pasang di blog haha. Tapi ga ada temennya jadi takut jalan sendirian. Bismillah… niatin nabung dari sekarang ah.

  6. Terakhir ke jogja gagal ke candi ijo ini gara-gara kelamaan main di tebing breksi, jadinya gagal mampir. baru tau ternyata sunset di candi ijo keren juga yah. Aku pribadi sih bisa dibilang penikmat sunset, kayaknya wajib kesini nih, Emang betul sih jalanan udah jauh lebih baik dibanding dulu, mudah-mudahan jadi menarik minat wisatawan buat berkunjung.

      1. Mari ke Ende supaya setiap hari sunset di tepi pantai … jaraknya cuma 10 menit jalan kaki dari rumah saya kok … eh kadang nggak sampe 10 menit :p

  7. Aku malah pengen gowes kesana, Mas.
    Pagi itu mau otewe sebenarnya, tapi ada kendala. D.undur dan sampe sekarang belum jadi..

    D.candi ijo udh barapa kali ya, aku sering banget. Mulai dari suasana pagi-pagi buta sebelum d.buka. Sore menjelang malam. Dan mahgriban d.breksi.

    Sering karena anter temen2 atau tamu juga sih..he
    Seneng sih kalau ke tempat wisata itu akses jalannya bagus. Mempermudah juga.

  8. Woh ini toh mas galautraveler 😆. Duh Candi Ijo, beberapa bulan lalu ke Jogja hanya sempat ke Ratu Boko buat Sunsetan. Kopdar mas Januari 2019 aku ke Jogja lagi. Katanya Candi Ijo salah satu yang terbagus untuk sunset ya.

    Salam kenal,
    Ogie

  9. waktu itu rencana ke sini, baru nyampe tebing breksi aja udah gelap wkwk masih keinget jalannya yang kecil kalau bus dempetan serem banget. Mana ramee banget karena udah jd wisata nasional? wkwk

  10. Perubahannya perubahan positif yang patut dihargai kok, aku udah deg-degan pas mau baca tulisan ini, kirain ada spot-spot foto rumah pohon atau tulisan warna-warni 🙁

    Aseeekkk jalannya udah diperbaiki. Bayangke wae bro, aku ke sana naik Suprafit yang entah keluaran tahun berapa. Motorku menggeh-menggeh nanjak jalan itu, mambune wis ra enak blas.

  11. Aku ke candi Ijo tahun 2011 kayane, jalanan masih jelek, candinya masih sepi. Kala itu candi kaya milik pribadi, kami bikin video sepuasnya, nyanyi2 gajelas koyo wong edan ahahaha. Gold old times. Sekarang pengen balik lagi nyunset di sana tapi kok males. Motore bojoku mesakke.

Komen aja dulu, nanti dikomen balik