Selamat Minggu Pagi, Yogyakarta

Dari iming-iming prakiraan cuaca dan suhu yang ditunjukkan oleh salah satu aplikasi, aku merencanakan hal di luar kebiasaan. Selepas subuh, di hari Minggu, 05 Agustus 2018, aku akan bersepeda menuju kota Yogyakarta. Tujuan utamanya adalah mencoba menikmati tugu di waktu pagi. Tak lazim kulakukan, karena biasanya aku akan lebih memilih untuk tidur di atas kasur. Bermalasan Memulihkan tenaga yang sudah habis dihajar dari Senin hingga Sabtu.

*****

Jalan A.M. Sangaji

Aplikasi peramal cuaca itu memberitahu suhu di Yogyakarta pada hari Minggu pagi mencapai 18°C. Titik suhu yang sangat mendukung untuk tidur selepas subuh bukan? Ditambah lagi, cuaca diperkirakan akan hujan. Namun tidak kali ini, aku sudah memilih untuk bangun dan pergi. Siapa tahu bisa menikmati matahari terbit perlahan dari tugu Jogja.

Setelah semalam meminjam sepeda teman kos, aku bangun terlambat, menunaikan ibadah salat subuh yang kesiangan. Pukul 05.30, langit sudah mulai terang. Segala ekspektasi akan menikmati matahari terbit mulai runtuh. Yang penting bisa sepedaan ke tugu.

Aku mengeluarkan gawai, mengecek suhu dan cuaca pagi ini. 18°C dan hujan seperti yang dia tunjukkan kemarin. Pantas suhu serendah itu tidak terlalu dingin. Awan kelabu menggelayut di atas langit. Begitulah suhu sangat dipengaruhi pula oleh awan. Pada musim kemarau seperti ini, awan-awan akan lebih sering pergi, membuat langit menjadi sangat cerah, tapi hal itu yang membuat suhu menjadi dingin. Angin pun kering. Sementara di musim hujan, awan akan lebih banyak menggantung, membawa uap air. Angin menjadi lembab, cuaca tidak panas, tapi suhu lebih hangat. Itu pula yang pernah aku rasakan ketika naik Gunung Lawu beberapa tahun lalu. Hujan yang turun justru membuat udara menjadi lebih hangat setelah ia reda.

Baca juga:

Pasar Kranggan sudah “Bangun”

Kalau di Yogyakarta suhu mencapai 18°C, bagaimana di Bandung dan Malang? Bagaimana juga di Dieng?

Aku mengeluarkan sepeda, mengayuh perlahan menuju Jalan A.M Sangaji atau lebih dikenal dengan nama jalan Monjali. Suasana pagi di Yogyakarta, di hari Minggu, memang sangat berbeda dari hari-hari biasanya. Lengang. Jika biasanya, jalanan akan dipenuhi oleh kaum menengah yang berangkat membanting tulang, demi menggendutkan rekening setiap bulannya. Maka kali ini sangat lengang. Jalan Monjali lebih manusiawi. Kendaraan hanya satu dua yang lalu lalang. Satu dua juga aku temui orang yang berlari pagi.  Sempat kutemui juga beberapa pedagang sarapan mulai menyiapkan makanannya. Restoran seperti Sari Eco mulai memanaskan kompor dan membersihkan lantai. Sementara hotel dan guesthouse justru tampak sangat tenang. Sepertinya, penghuni masih terlelap di dalam selimut masing-masing dengan hembusan dari pendingin ruangan. Hanya Hotel Tentrem yang nampak ada aktivitas. Satpam hotel baru saja membukakan gerbang, membiarkan sebuah mobil hitam memasuki pelataran di depan lobi.

Tugu sudah Ramai!

Menjelang perempatan Jetis, tampak banyak manusia-manusia yang tak muda berjalan kaki. Cukup ramai. Ternyata di SMAN 11 Yogyakarta sedang diselenggarakan latihan bersama aliran bela diri Taichi. Kalau dari film-film Mandarin yang kutonton, aliran Taichi lebih banyak menggunakan energi alam. Menyerang dengan memanfaatkan kekuatan lawan. Sepertinya aku harus mempertimbangkan ikut latihan Taichi demi cita-cita menjadi avatar pengendali empat elemen.

Melewati perempatan Jetis, suasana lengang langsung berubah. Jalanan berubah menjadi ramai. Penyebabnya adalah Pasar Kranggan yang sudah terbangun. Penjual dan pembeli sudah berada di sana untuk saling tawar, barter terjadi antara uang dan barang. Di depan gereja, sebelum SPBU, tampak penjual gudeg melayani beberapa pembeli. Penjual bunga-bunga juga tak luput dari kerumunan. Geliat perdagangan sudah terbangun. Bahkan nabi juga berdagang. Apabila dilihat lebih luas, kehidupan di dunia ini semuanya adalah perdagangan. Semua adalah kegiatan jual beli.

Baca juga: Cerita UMKM Jawa Tengah

Tugu sudah Ramai!
Selamat Pagi!

Berlanjut menuju perempatan tugu.

Aku terkejut dengan suasana yang sangat ramai di sana. Bahkan ada panggung yang membelakangi tugu terpasang di jalan Margo Utomo (dulu dikenal sebagai Jalan Mangukubumi). Sepertinya ada kegiatan Car Free Day. Setahuku, CFD biasanya dilaksanakan di Jalan Panglima Sudirman.

Telisik lebih jauh, rupanya karena ada acara. Dari beberapa booth dan pengeras suara, tampaknya acara tersebut berhubungan dengan Asian Games yang akan dilaksanakan di Jakarta – Palembang – Bandung pada bulan Agustus ini. Semoga acaranya sukses. Beberapa booth sudah terpasang, termasuk booth yang menjual suvenir resmi Asian Games. Sedikit mencuri dengar, akan diadakan juga lomba dance. Masing-masing kelompok mengenakan seragam masing-masing. Ada yang sedang berlatih agar tidak lupa. Sepertinya pesertanya didominasi oleh anak SD dan SMP. Kerumunan ramai menghilangkan semua ekspektasiku untuk melihat tugu Jogja yang sedang sepi. Ditambah cuaca sedang mendung, kilauan sinar matahari yang terbit tak bisa dilihat. Bahkan lalu lintas juga semakin padat.

Tugu Yogya di Pagi Hari

Aku menyingkir mencari sarapan di Pasar Kranggan. Aku mencari penjual kembang tahu. Tidak ketemu, aku kembali ke tugu, melewati kerumunan dan menuju ke arah Malioboro. Di depan Hotel Grand Zuri sedang diselenggarakan senam bersama.

Memasuki Malioboro di pagi hari tentu hal yang berbeda. Malioboro selalu ramai, terutama saat malam, dan di akhir pekan atau liburan. Isinya mobil memenuhi jalanan, kursi-kursi di trotoar juga pasti penuh. Tapi tidak pagi ini. Jalanan masih lengang. Kebanyakan pesepeda yang melintas. Di Jalan Malioboro, geliat perdagangan juga sudah mulai bangun. Di sisi kiri, penjual makanan sudah menggelar lapaknya. Ada yang mulai menggoreng ayam. Angkringan sudah buka. Beberapa pedagang soto dan gudeg dibanjiri wisatawan yang mencari sarapan. Sementara di sisi kanan, sisi yang banyak menjual pakaian dan oleh-oleh, tampak sedang bersiap pagi itu. Penjual mendorong gerobak berisi baju-baju, daster, celana, juga gelang-gelang. Sebagian gerobak yang ditinggal masih tertutupi terpal.

Jalan Margo Utomo
Menjebakkan Diri di Tengah PJL 3A dan 3B (Dikenal juga PJL Geser)

Baca juga: Info Kereta di Indonesia

Kéné, sarapan sek kéné.” (Indonesia: “Sini, sarapan dulu sini.”). Ajak salah seorang pedagang kepada temannya dengan setengah berteriak. Di saat persaingan di luar sana semakin sengit bahkan tak ragu untuk saling sikut, ternyata pedagang di Malioboro masih bisa bersenda gurau. Sarapan bersama dengan teman sesama pedagang. Sepertinya kaum akar rumput tak terlalu peduli dengan isu-isu politik yang berujung SARA.

Sementara itu, wisatawan juga sudah banyak yang berjalan kaki, menikmati pagi di trotoar sembari mengabadikan momen melalui kamera. Ada juga sepasang muda-mudi yang sedang berjalan beriringan. Sang pemuda memanggul tas carrier eiger warna biru. Sang pemudi memanggul tas ransel yang lebih kecil, berwarna biru juga. Sepertinya memiliki pasangan dengan hobi dan selera yang sama bukan ide yang buruk. Misal, yang sama-sama senang traveling.

🙂

Di Pasar Beringharjo, toko-toko penjual batik masih tutup. Kalau kalian berkunjung ke Pasar Beringharjo, mungkin bisa mencoba pecel mi yang dijual di depan pasar. Sementara jalan di depan Gedung Agung dan Benteng Vredeburg ditutup. Sama seperti di depan Hotel Grand Zuri, di sana sedang ada senam bersama. Bedanya, jika di depan hotel tadi ada empat instruktur dengan irama lagu yang biasa, di sini hanya ada satu instruktur dengan irama lagu “koplo”. Kalau saja tidak di atas sepeda mungkin aku reflek berjoget.

Nol Kilometer. Sudah pernah Berfoto di Sini?

Rupanya lalu lintas sudah mulai ramai di perempatan nol kilometer saat waktu menunjukkan pukul 07.00. Pengunjung juga sudah ada yang berfoto ria, di luar peserta senam bersama. Akupun menghentikan sepeda lebih lama di sini. Sebatas berfoto. Lalu kembali mengayuh sepeda, melewati Taman Budaya, toko buku Remujung, dan menuju jalan Mayor Suryotomo yang lebih lengang. Bagi yang tinggal di Yogyakarta, Jalan Mayor Suryotomo dekat Progo dan Hotel Limaran adalah momok kemacetan. Pagi itu, lalu lintas masih cukup normal. Aku masih cukup nyaman bersepeda. Di pertigaan Hotel Melia Purosani aku membelokkan arah sepeda menuju jalan Juminahan. Di tepi jalan suasana agustusan sudah mulai tampak. Beberapa lapak mulai menjual pernak-pernik seperti bendera merah putih. Tujuanku kali ini adalah Pasar Lempuyangan.

Melewati Pasar Lempuyangan, niat awalku untuk berhenti dan membeli bubur jenang yang konon menjadi favorit bapak Soeharto (alm) buyar karena ingat bahwa sepedaku tidak memiliki kunci. Jika aku biarkan parkir begitu saja sementara aku mblusuk ke dalam pasar tentu maling bisa dengan mudah mengambil. Langsung saja aku menuju bundaran Kridosono.

Wisata dan Olahraga bersama Keluarga
Banyak yang Bersepeda juga
Langitnya Biru

Di Bundaran Stadion Kridosono, aku melihat ada penjual Tahu Tek, Lontong Balap, dan Rujak Cingur. Menyeberang bundaran stadion pun lebih mudah meski aku naik sepeda. Sayangnya, ada tanda “TUTUP” di warung tersebut. Perut yang keroncongan memaksa otak untuk segera berputar mencari sarapan. Pilihan terakhir adalah warung bubur ayam Bandung Az Zahra di dekat Apotek UGM. Langsung aku mengayuh sepeda, melewati perempatan Gramedia dan Bundaran UGM, lalu berbelok ke Mirota Kampus. Kegiatan senam pagi di Mirota Kampus pun usai sepertinya. (Perempatan) Mirota Kampus adalah salah satu titik kemacetan yang cukup parah di Yogyakarta. Mungkin kalau aku bersepeda lebih siang lagi, Perempatan Mirota Kampus tidak akan selengang saat itu.

Aku tiba di Warung Bubur Ayam Bandung Az Zahra. Selepas memarkir sepeda, aku langsung mendekati sang ibu penjual, memesan satu mangkuk bubur ayam dan teh manis hangat. Cocok untuk mengisi perut di pagi hari. Bubur maupun teh manis yang hangat akan mampu membangkitkan perut. Bubur yang lembut juga tidak akan memaksa perut bekerja keras di pagi itu.

Bubur dan teh disajikan. Sebelum aku menambahkan macam-macam, aku mengambil sesendok. Menikmati orisinalitas rasa. Barulah aku menambahkan sambal dan kecap untuk menambah rasa. Sekarang, makan tanpa sambal rasanya kurang. Semangkuk bubur dan segelas teh mampu kuhabiskan dalam waktu kurang dari setengah jam. Semuanya dapat dinikmati dengan membayar Rp 12.000,00. Perut kenyang, hatipun tenang.

Selamat Sarapan!

Aku melanjutkan perjalanan menuju tempat terakhir, menuju sebuah ruangan berukuran kurang lebih 3×3 meter tapi memiliki gaya gravitasi yang sangat tinggi. Gaya gravitasi pada ruangan tersebut bernilai tak hingga. Ruangan itu adalah kamar kos, dengan pusat gravitasi pada kasur. Tidak ada yang lebih nikmat dari menghabiskan Minggu dengan tidur.

Piknik Tipis ke Ketep Pass

Banyak sekali alasan masing-masing pejalan untuk melakukan perjalanan, ada yang untuk mencari jati diri, mencari makna kehidupan, sekedar melepas penat setelah bekerja, mengikuti trend kekinian ala anak gaul, atau karena kabur dari sesuatu. Semua itu tidak ada yang benar atau salah karena menyangkut diri pribadi masing-masing, tak bisa dipaksakan.

Kabur? Memang ada masalah apa kok sampai kabur? Kali ini alasannya cukup jelas. Aku kabur karena PLN Jogja sudah memberi informasi sejak sehari sebelumnya bahwa listrik di daerah kosku akan dipadamkan terkait dengan kegiatan penggantian kabel. Daripada mati gaya di kost, akhirnya aku sepakat untuk ikut dengan salah seorang temanku, jalan-jalan ke Ketep Pass.

https://twitter.com/pln_jogja/status/693367736219488256
BACA AJA LANJUTANNYA KAKAK

Menggapai Fajar Atas Awan di Kebun Buah Mangunan

Bagi sebagian orang, bangun pagi apalagi melihat matahari terbit itu menjadi kesulitan tersendiri.Berbeda dengan suasana matahari terbenam yang relatif lebih manusiawi. Beberapa waktu yang lalu, aku pernah bertemu dengan kak Mumun. Dia berkata, “Matahari terbit adalah saat kamu bangun tidur dan membuka mata dan menatap matahari tak peduli kapanpun itu.” Begitupun aku, bagiku bangun jam 3 pagi itu bisa dikatakan sebuah mitos.

BACA AJA LANJUTANNYA KAKAK