Menjemput Fajar Punthuk Setumbu

Mungkin sebaiknya kita memiliki setidaknya satu orang teman yang seperti Mas Adit. Tidak terlalu ribet kalau urusan jalan-jalan. Selama tidak bentrok dengan jadwal, mau ke mana saja dia siap. Tipikal orang yang sudah menyiapkan satu tas berisi pakaian untuk berjaga-jaga. Soal tempat juga tidak terlalu banyak memilih. Meski memiliki target-target kecil seperti ke tempat A, B, C, tapi tidak kemudian memaksakan kehendak. Dan seperti kebanyakan karyawan pada umumnya, dia bertubuh tambun.

******

BACA AJA LANJUTANNYA KAKAK

Bersepeda Keliling Taman Purbakala Prambanan

Tak seperti hari libur yang lain, kali ini aku tidak lagi menarik selimut selepas salat Subuh. Tanggal merah, matahari bersinar hangat, langit biru, hari yang cerah. Kombinasi-kombinasi yang menyenangkan untuk memulai hari. Waktu masih menunjukkan pukul tujuh pagi, saatnya mencari sarapan nasi kuning dulu, baru kemudian mandi. Mengenakan kaus yang pantas dan celana, kemudian menyalakan dan memanaskan mesin motor. Sementara anak kos lain masih berkutat dengan mimpinya. Bermimpilah yang dalam, teman, karena semua berawal dari mimpi.

******

BACA AJA LANJUTANNYA KAKAK

Pasar Papringan yang Ramai

Kami datang terlalu siang. Sudah pukul 09.00 WIB setiba kami di tempat parkir. Tim dari Pasar Papringan segera mengondisikan begitu kami datang. Kami dibagi menjadi grup kecil sesuai kapasitas mobil Kijang untuk diantar masuk ke dalam pasar.

Pasar Papringan masih sekitar dua kilometer lagi dari tempat kami berhenti. Di tempat parkir ini, aku hanya melihat kendaraan berlalu lalang. Ada yang masuk, ada juga yang keluar. Ramai sekali. Entah bagaimana di dalam. Sempat terpikir untuk berjalan kaki. Tapi teman-teman yang kuajak berjalan mengurungkan niat. Takutnya malah dicari oleh panitia, katanya. Ada benarnya. Aku kemudian memilih menunggu.

BACA AJA LANJUTANNYA KAKAK