Pasar Papringan yang Ramai

Kami datang terlalu siang. Sudah pukul 09.00 WIB setiba kami di tempat parkir. Tim dari Pasar Papringan segera mengondisikan begitu kami datang. Kami dibagi menjadi grup kecil sesuai kapasitas mobil Kijang untuk diantar masuk ke dalam pasar.

Pasar Papringan masih sekitar dua kilometer lagi dari tempat kami berhenti. Di tempat parkir ini, aku hanya melihat kendaraan berlalu lalang. Ada yang masuk, ada juga yang keluar. Ramai sekali. Entah bagaimana di dalam. Sempat terpikir untuk berjalan kaki. Tapi teman-teman yang kuajak berjalan mengurungkan niat. Takutnya malah dicari oleh panitia, katanya. Ada benarnya. Aku kemudian memilih menunggu.

BACA AJA LANJUTANNYA KAKAK

Melihat Proses Produksi Carica di Wonosobo

Tahun 2013 dalam sebuah kegiatan kampus adalah kali pertama aku bertemu dengannya. Kegiatan itu mengharuskanku menginap di Wonosobo. Namanya yang tersohor itu membuatku penasaran bagaimanakah rupanya. Alih-alih di Dieng yang merupakan tempat asalnya, di sebuah tempat makan di Wonosobo inilah aku bertemu dengannya. Aku jatuh cinta pada saat pertama kumelihatnya. Carica namanya.

BACA AJA LANJUTANNYA KAKAK

Mencicip Kopi Posong Temanggung

Bus berjalan pelan, menyusuri tanjakan dan licinnya jalan, lalu berhenti di depan sebuah gapura. Titik berhenti bus kurang ideal, tepat berada di tikungan. Kami melangkahkan kaki menuruni anak tangga bis. Hujan gerimis menyambut kami di desa Posong, Temanggung. Payung yang dipersiapkan tak cukup untuk melindungi seluruh tubuh kami dari rintik hujan.

Di sebuah rumah, dengan latar belakang Gunung Sumbing kami menuju. Dari jauh, aroma kopi sangat kuat menyeruak. Di dalam rumah ini dihuni oleh sang pelopor. Selamat datang di kediaman Bapak Tuhar.

BACA AJA LANJUTANNYA KAKAK